Compartir

Bab 660

Autor: Piemar
last update Última actualización: 2026-03-03 13:56:18

“Sepertinya aku akan pulang,” ujar Inez mengakhiri percakapan dengan Clara. Ia menatap Ethan yang sedang menyusu lalu tertidur. “Bayiku sudah tidur lagi. Aku jadi mengantuk juga,” katanya sembari menguap pelan. Bawaan hormon menyusui membuatnya mudah sekali mengantuk.

Clara menatap baby Ethan lama. “Sebaiknya kau menginap di sini. Kau belum bertemu dengan si kembar kan,” tebaknya.

Inez mengerjap. “Aku nyaris melupakan mereka. Aku tidak melihat mereka di manapun semenjak tiba di sini.”

Clara m
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • PUTRI YANG TERTUKAR   Bab 662

    Clara berjalan bolak-balik di depan kamar yang ia tempati. Ia tidak bisa tidur nyenyak. Di tangannya sebuah surat digenggam erat. Surat yang dikirim oleh Thorian untuknya—yang memintanya bertemu. “Pergi? Enggak? Pergi? Enggak?” monolognya dengan hati yang gelisah. “Kau mau melamar jadi pengawal istana?” Nathan menghampiri kakaknya. Ia berjalan ke arahnya sembari mengucek matanya yang terasa berat. Malam sudah larut, tetapi suara-suara kecil yang dibuat sang kakak, membuatnya terbangun dari mimpi indahnya. Padahal ia tengah bermimpi menjadi seorang putra mahkota di negeri antah berantah. Ketika mendengar suara adiknya, Clara menoleh dengan tatapan tajam. “Aku seorang tabib. Aku tidak tertarik mengawal orang.” Nathan mendesah pelan. “Jadi apa yang kaulakukan malam begini? Apa jangan-jangan kau berniat kabur dari istana?”Clara memutar ke dua bola matanya jengah. Adiknya itu memang sosok yang paling senang menggodanya. “Nathan, ini bukan urusanmu,” bentak Clara akan tetapi sama seka

  • PUTRI YANG TERTUKAR   Bab 661

    Meggie melangkah pelan mendekat, menundukkan sedikit tubuhnya sebelum berbisik di samping Inez. “Mereka sering bertanya… kapan semua orang akan berkumpul lagi seperti dulu.”Kalimat itu sederhana, tapi cukup untuk membuat senyum Inez meredup. Di seberangnya, Evander yang semula berdiri tegak mendadak terdiam, napasnya terasa berat.“Seperti dulu?” ulang Inez lirih.Meggie mengangguk. “Ya. Sebelum wabah. Sebelum banyak hal berubah.”Inez memalingkan wajahnya ke arah Juliana yang tengah berdiri di atas kursi kecil, kedua tangannya terentang, berusaha menyeimbangkan diri seolah sedang menaklukkan panggung besar.“Banyak hal memang berubah,” gumam Inez, suaranya nyaris tenggelam oleh tawa anak itu.Evander menangkap nada sendu yang tak sempat disembunyikan. Ia melangkah mendekat, berdiri di sisi Inez tanpa menyentuh, tapi cukup dekat untuk menunjukkan bahwa ia ada di sana. “Tapi tidak semua berubah menjadi buruk,” ujarnya tenang.Inez menoleh, alisnya terangkat tipis. “Tidak?”Evander men

  • PUTRI YANG TERTUKAR   Bab 660

    “Sepertinya aku akan pulang,” ujar Inez mengakhiri percakapan dengan Clara. Ia menatap Ethan yang sedang menyusu lalu tertidur. “Bayiku sudah tidur lagi. Aku jadi mengantuk juga,” katanya sembari menguap pelan. Bawaan hormon menyusui membuatnya mudah sekali mengantuk. Clara menatap baby Ethan lama. “Sebaiknya kau menginap di sini. Kau belum bertemu dengan si kembar kan,” tebaknya. Inez mengerjap. “Aku nyaris melupakan mereka. Aku tidak melihat mereka di manapun semenjak tiba di sini.”Clara menarik napas dalam sebelum melanjutkan ceritanya. “Semenjak wabah merebak, mereka diasingkan ke paviliun. Mungkin sebentar lagi akan kembali tinggal di istana sayap timur.”Inez tersenyum simpul. “Pangeran Leon pasti sangat protektif pada mereka.”Clara mengangguk pelan. “Jangankan pada anak dan keluarganya. Dia juga …” ada jeda tipis sesaat sebelum melanjutkan kalimatnya. Teringat akan perhatian Leon saat pergi langsung menjemputnya ke perbatasan dengan pengawalan yang ketat. “Kau tidak tertar

  • PUTRI YANG TERTUKAR   Bab 659

    Sebelum pulang, Inez menyempatkan diri menemui seseorang. Seseorang yang cukup dekat dengannya selama ini.Ketika ia berjalan menuju air mancur di taman, tampak Clara duduk di bangku batu, membuka catatan kecilnya.“Izin duduk?” Inez berkata singkat. Clara menoleh. Inez berdiri beberapa langkah darinya, menggendong Ethan yang terlelap di dadanya.Clara tersenyum hangat. “Untukmu? Selalu.” Tak lama kemudian, tatapannya turun pada bayi Inez.Inez duduk di sampingnya, menghela napas panjang. “Aku baru dari ruang ibunda ratu.”Clara mengangkat alis tipis. “Dan kau masih terlihat utuh. Itu kabar baik.”Inez terkekeh kecil. “Entah bagaimana… Ethan berhasil melakukan hal yang tak pernah bisa kulakukan.”“Membenturkan tembok?” tebak Clara.“Menghancurkan tembok, lebih tepatnya,” jawab Inez pelan. Mereka paham betul apa yang dimaksud ‘tembok’ adalah hati wanita itu. Mereka terdiam sejenak, memandangi wajah bayi yang damai.“Dia tumbuh cepat,” ujar Clara lembut. Sial, tiba-tiba ia membayangka

  • PUTRI YANG TERTUKAR   Bab 658

    Evander menatap wajah ayahnya lebih lama, seolah mencari sesuatu. Semacam gerakan kecil, tarikan napas berbeda, kedipan yang tak ada. Yang tak lain bahwa pertanda ayah mereka akan bangun dari tidur panjangnya. Nyatanya, jauh panggang dari api. Semua itu tidak terjadi seperti yang ia harapkan. Gerakan kecil pada jemarinya itu tidak ada. Itu hanya … sekedar harapannya. Tiba-tiba baby Ethan menangis lirih. Sontak semua mata menoleh padanya. Inez gegas menimbang bayi itu dengan gerakan yang lembut.“Sttsss, kenapa Sayang?” gumam Inez padanya. Ia pun memutuskan untuk mundur beberapa langkah menjauh, agar putranya tidak membuat kegaduhan di sana. Leon berbicara di depan ayah mereka. “Aku akan menjaga Ravensel,” ucapnya akhirnya, lebih tegas. “Tapi aku masih membutuhkanmu.”Tetap saja, tidak ada tanda-tanda kesadaran sang raja. Semua mata tertuju pada ranjang. Evander menegakkan tubuh. “Kak Leon—”Tangisan bayi perlahan mereda dalam pelukan Inez. Dan kamar kembali tenggelam dalam kehenin

  • PUTRI YANG TERTUKAR   Bab 657

    Nathan membuka lembar laporan terakhir. “Masih ada sisa kasus. Tapi sudah tidak menyebar. Karantina bekerja.”Clara terdiam sejenak. Perbatasan. Ia menahan pikirannya agar tidak melayang lebih jauh. Ya, pasti, ia memikirkan seseorang yang berada nun jauh di sana. Seorang anggota dewan berkata pelan, “Ravensel berutang pada kalian berdua.”Nathan terkekeh ringan. “Kami hanya melakukan tugas.”“Tidak,” sang anggota menggeleng. “Kalian membuat sistemnya bekerja.”Sunyi sesaat. Di luar jendela, lonceng kota berdentang, sebuah pengumuman pasar kembali dibuka. Tidak lagi ada dentang lonceng kematian. Perlahan semua kembali normal. Clara menutup botol kecil berisi ramuan bening. “Wabah ini mengajarkan satu hal,” katanya pelan. Wajahnya tampak serius. Nathan menoleh. “Apa itu?”“Bahwa kerajaan yang kuat bukan yang memiliki senjata paling banyak,” jawabnya, “melainkan yang paling cepat melindungi rakyatnya.”Beberapa anggota dewan saling pandang. Kalimat itu terdengar sederhana, tapi penuh

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status