Ellena menoleh ke arah Dokter Januar, matanya sayu memohon. “Dok, maaf, bisakah tinggalkan kami? Maaf atas kegaduhan ini,” ujarnya lirih.Secara tidak langsung, Ellena justru sedang menyelamatkan dirinya sendiri dari obat mematikan yang tadi dibawa Januar.Dokter Januar mengangguk singkat, matanya melirik sekilas ke arah suntikan di tangannya, lalu menyimpannya kembali ke saku. “Baiklah. Nanti aku akan datang lagi untuk mengecek kondisimu. Dan kalau ada apa-apa langsung hubungi aku.”Padahal dalam hati dokter itu sedang mengumpat keras. ‘Kenapa wanita ini sulit sekali untuk dihabisi?’ batinnya.Mery dan Anton bahkan tidak menatap Januar dengan sikap sopan.“Dokter! Apa anak ini bisa pulang sekarang? Dia tidak perlu menginap, kan? Biayanya mahal!” teriak Mery ketus.“Benar. Dia hanya kelelahan biasanya saja.”“Dia harus opname beberapa hari untuk observasi kepalanya. Kondisinya tidak stabil,” jawabnya singkat lalu melangkah keluar, menutup pintu rapat-rapat.Begitu pintu tertutup, suas
Read more