Eric berjingkat kaget. Tubuhnya refleks tersentak hingga tablet di tangannya hampir terjatuh. “I-iya, Pak. Saya akan segera pergi,” sahutnya gelagapan.Dengan langkah seribu, Eric berbalik hendak keluar. Tapi baru saja tangannya menyentuh handle pintu–“Siapa yang menyuruhmu keluar, Eric?! Kenapa kamu mau pergi?” Suara Alan kembali menggelegar.Eric mematung. Tangannya menggantung di udara dengan wajah yang benar-benar bingung. Dia berbalik perlahan, maju mundur kikuk, serba salah.BRAKK! Alan menghentakkan kepalan tangannya di meja sambil menatap tajam wajah Eric.Dan Eric melangkah cepat, mendekati meja Alan dengan kepala tertunduk, takut salah lagi menghadapi badai emosi bosnya itu. “Ya, Pak. Maaf, tadi saya kira Anda ingin saya keluar.”Alan membuang napas kasar, menyugar rambutnya, jengkel. “Hish! Siapa yang tadi bicara denganmu!”Eric mendongak dan menatap wajah bosnya itu. Perasaannya jadi tak tenang. Jelas-jelas atasannya itu sudah sarapan, tapi kenapa otaknya sekarang salah me
Read more