“Benarkah dia menyerah begitu saja? Menyerahkan ranjang ini semalaman?”Ellena duduk di tepi ranjang, jemarinya mengetuk-ngetuk pelan dengan tatapan dalam ke depan. Dahinya berkerut, mencoba membedah motif di balik kata-kata Alan soal menghabiskan malam di ruang kerja.Pria itu bukan tipe yang mudah mengalah pada kenyamanan, apalagi setelah kemarin bersikeras mengklaim ranjang ini sebagai hak miliknya. “Sangat tidak logis,” gumamnya pelan. Kemarin dia diberikan hak tidur di ranjang, tapi tiba-tiba juga Alan nongol di sisi ranjang. Menakutkan. Ellena sontak merinding saat mengingatkannya.Ada yang janggal. Alan terlalu cepat memberi ruang, dan bagi Ellena, itu adalah taktik yang patut diwaspadai.Dia tidak akan membiarkan pria itu menyelinap masuk seperti malam sebelumnya, dan mengambil keuntungan di luar kesadarannya.“Kamu pikir aku cukup naif untuk percaya begitu saja? Heh, aku bukan cuma Ellena sekretarismu, tapi juga istrimu yang punya hak mempertahankan kehormatan … yang satu it
Read more