“Atau sekretaris kontroversi itulah istri Anda yang sebenarnya. jawab Pak Alan. Jangan membuat publik resah”Alan menarik satu sudut bibirnya dengan tatapan tajam pada jurnalis itu. Tangannya mengepal kuat di atas meja. Dalam dadanya ada sebuah dorongan gejolak kuat yang ingin meneriakkan kalau … ‘Ya, dia memang istriku! Kalian mau apa?!’ Tapi … belum saatnya. Rahangnya sampai bergemeletuk karena menahan gejolak emosi itu.Lalu, Alan menarik mikrofon dengan tatapan tajam masih pada jurnalis itu. “Pertanyaan menarik. Tapi sepertinya imajinasi Anda terlalu jauh. Jika setiap sekretaris cantik harus dicurigai sebagai istri bosnya, maka berapa banyak pernikahan yang harus saya buat di kantor ini?”Jawaban ambigu itu bukannya meredakan suasana, justru memicu sahut-sahutan pertanyaan yang lebih liar dari sisi jurnalis lain.“Kalau begitu, soal sekretaris Anda adalah simpanan, apa itu juga termasuk bagian dari marketing?”“Dan yang kami dengar, sekretaris itu sudah jarang masuk kerja, tapi t
Read more