Tangan Ivan hampir naik, siap menghantam, tak peduli dengan urusan belakangnya. Mata Alan melotot tegang, dan sepertinya paham dengan gerakan halus itu. “Pak, ada telepon dari Tuan besar.” Tapi untung saja Tio, asisten datang.Ivan menghembuskan nafas panas emosinya, masih tampak getaran di rahangnya yang mengeras.Lalu, Tio membisikkan sesuatu.Dan kini Ivan memejamkan mata sejenak, menetralisir gemuruh di dadanya. Lalu, dia menatap Ellena dengan tatapan sangat sendu dan berat hati, seolah ingin memindahkan seluruh rasa sakit wanita itu ke tubuhnya sendiri sebagai penebusan salah karena gagal melindungi.“Jangan menatap Ellena seperti itu lagi karena nanti akan menjadi kesalahpahaman fatal, Tuan Ivan.” Alan mengangguk sok bijak.Ivan kembali menatap Alan dengan sorot mata tajam. “Jaga dia baik-baik. Pastikan tidak ada lagi bahaya yang mendekat padanya. Meski begitu, saya akan tetap mengawasi perkembangan kesehatannya.”Alan menggeram dalam batin. Memangnya siapa dia yang berani bila
Read more