Minggu pagi yang hangat. Cahaya matahari menembus tirai jendela dapur baru itu, menari-nari di atas meja aluminium yang berkilau. Laras dan Julio berdiri berdampingan di depan pintu dapur Laras memegang gunting sementara Julio membawa kendi kecil berisi air bunga. Di sisi kiri dan kanan mereka, Riris dan Ario memegang pita merah yang membentangi pintu dengan wajah penuh semangat. Di belakang, berdiri Mama Susan dan Papa Johan, bersama enam mitra keliling pertama Labayo. Udara pagi itu terasa segar, tapi di hati Laras berputar campuran rasa bahagia, haru, dan gugup. Baru saja ia bersiap menggunting pita, tiba-tiba Riris berseru, “Stop! Belum doa dan kata sambutan. Masak langsung action aja?” Semua tertawa. Laras melirik Julio, memberi isyarat agar dia yang berbicara. Julio mengangguk, lalu mengambil langkah ke depan. “Pertama-tama,” katanya, dengan suara hangat, “aku dan Laras ingin berterima kasih buat semua yang hadir di sini terutama Papa, yang dengan pengalaman dan tangannya,
Last Updated : 2025-11-20 Read more