“Bawahnya juga distimulasi ya, siapa tau bisa bikin keluar.”Sevi hanya mengangguk pasrah, ia pikir apa salah nya mencoba. Sebab keduanya juga sama-sama bingung, ia juga tak mau jika harus dibantu oleh dokter.Dengan cepat Arlan menanggalkan semua yang menutupi bagian bawah Sevi. Cairan bening mengalir lembut disela-sela, kedutan tipis dari milik Sevi membuat cairan itu menetes di sprei.Jari jemari nya ia basahi sendiri dengan mulutnya sebagai pelumas agar tak terlalu kesat. Jempol nya bergerak memutar di area kacang, sedangkan jari tengah nya masuk menelisik ke dalam mencari titik sensitif wanita nya.“Ahh... Disitu...” Sevi menggeliat tak karuan, sebab di atas dan bawah nya terstimulasi dengan baik dan membuatnya hilang akal. Rasa sakit dan nyeri yang tadi ia rasakan, diganti oleh kenikmatan yang membuatnya lupa bahwa dirinya sedang di bangsal rumah sakit.“Sayanhh.. Kelu..”Gumpalan yang sedari tadi membuat Sevi sengsara kini sudah keluar, berwarna merah segar dan gumpalannya pu
Ler mais