Sekitar satu jam kemudian, pintu lift terbuka. Sevi keluar lebih dulu, di belakangnya ada Dito, Maya, dan Bagas yang wajahnya masih terlihat lelah setelah sempat beristirahat beberapa jam di hotel.Begitu memasuki lorong ruang rawat, mereka langsung melihat keadaan yang jauh berbeda. Bima masih terduduk di sofa dengan sikunya yang bertumpu di lutut serta kepalanya menunduk. Sejak tadi hampir tidak bergerak.Sementara Arlan terus mondar-mandir di depan kamar. Tangannya beberapa kali meremas rambut sendiri. Melihat itu, Sevi langsung menghampiri."Kenapa, Lan?"Belum sempat Arlan menjawab, pria itu justru menarik tubuh Sevi ke dalam pelukannya yang erat. Sevi sampai sedikit terkejut."Lan...""Ayo pulang." Suara Arlan hampir seperti bisikan, lelah dan penuh tekanan.Sevi mengernyit. "Bukannya Sonya masih belum bisa dirujuk? atau... dipulangkan paksa aja?"Arlan menggeleng kuat, memberi gestur tidak, bukan itu maksudnya. Ia hanya... bingung dan benar-benar tidak tahu harus mengambil kepu
Read more