Malam di apartemen terasa jauh lebih sunyi dibanding biasanya. Tidak ada suara televisi, atau candaan receh Arlan yang biasanya memenuhi ruang tengah.Bahkan suara notifikasi ponsel pun hampir tidak terdengar karena sejak sampai tadi, Arlan memilih membalik ponselnya begitu saja di atas meja.Ia terlihat benar-benar lelah. Bukan hanya fisiknya, tapi juga pikirannya.Sevi memperhatikan pria itu diam-diam dari dapur kecil apartemen sambil menuangkan sup hangat ke mangkuk. Tatapannya perlahan melunak.Arlan sedang duduk di sofa dengan kepala tersandar ke belakang dan mata terpejam. Dasi kantornya sudah entah dilempar ke mana, dua kancing atas kemejanya terbuka, sementara lengan bajunya tergulung asal sampai siku.Suara helaan nafas berulangkali terdengar, kini ia terlihat sangat rapuh.“Huff..”Sevi jarang sekali melihat Arlan serapuh ini. Biasanya pria itu selalu terlihat kuat di depan siapa pun. Seolah semua masalah bisa ia hadapi sendiri. Tapi akhir-akhir ini, bahu Arlan seperti mulai
Read more