“Ahh… Arlan, pelan-pelan…” lenguh Sevi dengan napas yang memburu.Cairan susu yang hangat dan manis mengalir deras, membanjiri rongga mulut Arlan. Pria itu menelannya rakus tanpa sisa, sementara tangannya yang bebas meremas pinggang Sevi, menarik tubuh polos tunangannya semakin menempel erat pada wajahnya. Isapan Arlan semakin menuntut, menciptakan suara basah yang intim di keheningan ruangan itu, membakar seluruh waras yang tersisa di antara mereka.Tangan Arlan bergerak turun, dengan tergesa-gesa membuka satu per satu kancing kemeja putih Sevi hingga terlepas sepenuhnya, menampakkan payudara Sevi yang mengeras penuh, berdenyut kencang karena bendungan cairan yang menyiksa. Ujungnya yang sensitif tampak merembeskan cairan putih murni yang berkilau terkena cahaya lampu. Sensasi gesekan kulit mereka membuat Sevi mendesah hebat. Rasa nyeri yang membakar di dadanya semakin menjadi-jadi, menuntut pelepasan.Melihat itu, rahang Arlan mengeras. Ia ikut duduk di ranjang Sevi, langsung men
Read more