Pagi itu dimulai dengan sesuatu yang aneh. Bima sudah berada di depan sebuah kedai sarapan sejak pukul tujuh pagi.Sesuai janjinya semalam, ia bahkan tetap membeli dua porsi sekaligus. Satu untuk dirinya dan satu lagi untuk Sonya.Namun hingga pukul setengah delapan, perempuan itu tidak muncul. Awalnya Bima tidak terlalu memikirkan.. Namun dua puluh menit berlalu, Sonya belum terlihat batang hidungnya.Ketika jarum jam mendekati pukul delapan, Bima mulai merasa ada yang tidak beres. Ia mengambil ponselnya, lalu menghubungi Sonya.Sekali, dua kali tidak diangkat. Pun hingga tiga kali, masih sama. Bima mulai mengernyit, lalu mencoba mengirim pesan, namun tak ada balasan.\\\Sementara itu di kantor pusat, suasana pagi hari juga tidak kalah tegang. Arlan baru saja tiba bersama Sevi dan masuk ke ruangan secara berdampingan.Meski semalam mereka berhasil beristirahat sedikit lebih baik, tumpukan masalah yang menunggu di kantor membuat keduanya kembali memasang wajah serius.Begitu masuk ru
Read more