Aku menoleh ke samping, melihat Sabrina yang masih bergelung di balik selimut tebal.Wajahnya tampak sangat tenang, jauh dari guratan lelah yang biasanya kulihat di Jakarta. Aku beranjak pelan, mengambil sarung yang tersampir di kursi dan melilitkannya di pinggang sebelum melangkah keluar menuju dapur.Di sana, Ibu sudah sibuk di depan kompor besar. Uap panas mengepul dari wajan, menciptakan suasana yang begitu hangat. Alisa duduk di meja makan sambil memegang tablet, jemarinya lincah memeriksa daftar pesanan masuk dari aplikasi pesan singkat."Pagi, Bu. Kok sudah seramai ini?" tanyanya sambil menghampiri Ibu dan mencium bahunya."Eh, Bima. Sudah bangun, Nak? Iya, ini pesanan dari Pesantren Al-Hidayah. Mereka ada acara syukuran besar hari ini, jadi minta dikirim pagi-pagi sekali. Beras sepuluh karung, minyak goreng lima dus, sama telur ayam," jawab Ibu tanpa mengalihkan pandangan dari masakannya."Alisa sudah atur kurirnya, A. Mang Ujang sama anaknya sudah di depan lagi muat barang.
Last Updated : 2026-04-06 Read more