Deru mesin motor sport-ku membelah kemacetan Jakarta menuju Menteng dengan kecepatan yang nyaris gila. Jantungku berdegup kencang, selaras dengan denyut tenaga dalam yang mulai bergejolak akibat emosi yang meluap. Begitu ban motor mencit di depan gerbang rumah Ibu, aku melompat turun bahkan sebelum mesinnya benar-benar mati. Riko dan tim medis dari Adrian Group sudah berada di sana, masuk dengan peralatan darurat."Mas Bima! Ibu ada di kamar atas. Dokter spesialis sedang melakukan observasi awal," lapor Riko dengan wajah yang sangat tegang.Aku berlari menaiki tangga kayu jati, masuk ke kamar Ibu yang biasanya tenang. Di sana, Ibu terbaring pucat, namun anehnya, pembuluh darah di leher dan lengannya tampak menonjol dengan rona kebiruan yang berpendar halus. Persis seperti reaksi zat bening saat aku mengalami tekanan hebat, namun pada Ibu, reaksinya terlihat jauh lebih menyakitkan."Bima..." suara Ibu parau, nyaris tidak terdengar. Tangan Ibu yang gemetar mencoba meraih lenganku. "Ja
最終更新日 : 2026-04-04 続きを読む