"Mas, minum air putihnya dulu. Kamu jangan terlalu tegang," suara Sabrina memecah keheninganku. Ia menghampiriku, merapikan kerah bajuku dengan gerakan yang sangat lembut."Terima kasih, Sab. Kamu tetap di sini ya sama Alisa. Jaga Kakek juga," jawabku sambil menggenggam tangannya sejenak."Hati-hati, Bim. Baron itu licik, dia nggak segan pakai cara kotor di depan pejabat sekalipun," Ibu menimpali dari ambang pintu, wajahnya menyiratkan kekhawatiran yang mendalam.Aku mengangguk mantap. "Ibu tenang saja. Bima nggak akan biarkan mereka menyentuh satu senti pun hak kita."Kami berangkat menuju kantor wilayah Jawa Timur dengan pengawalan yang sangat minim, setidaknya di permukaan. Hanya ada aku, Ibu, dan seorang sopir tua kepercayaan Kakek. Namun, aku tahu di belakang kami, Riko dan timnya sudah menyebar dalam radius beberapa ratus meter, memantau setiap pergerakan menggunakan kendaraan-kendaraan biasa yang tak mencolok.Begitu sampai di ruang mediasi, suasana langsung terasa berat. Ruang
最終更新日 : 2026-03-27 続きを読む