Di sebuah kamar kecil, Aluna terbangun bukan karena alarm, bukan karena mimpi buruk melainkan karena ia merasa dalam beberapa hari, dadanya terasa lebih ringan.Bukan bahagia.Bukan juga sedih.Hanya tidak seberat kemarin.Ia duduk perlahan, menarik napas dalam-dalam. Rambutnya kusut, matanya sedikit sembap, tapi bukan akibat menangis semalaman. Semalam ia tidak menangis. Ia hanya diam, membiarkan rasa yang tersisa mereda seperti ombak kecil di pantai.Di meja, ponselnya tergeletak.Tidak ada pesan.Tidak ada notifikasi.Tidak ada nama Leonard yang muncul.Dulu, itu menghancurkannya. Sekarang, hanya menusuk pelan tapi tidak lagi menenggelamkan.Mungkin, ini yang orang sebut mulai terbiasa.---Aluna merapikan tas kecilnya berisi camilan, buku catatan, dan uang receh. Ia hendak berangkat ke rumah sakit, tempat adiknya masih dirawat. Sudah berminggu- minggu ia bolak-balik, bekerja dan mengurus adik satu-satunya.Hidupnya berjalan dengan atau tanpa Leonard.Dan pagi ini, ia merasa harus
Last Updated : 2025-11-30 Read more