Suasana di dalam gudang itu terasa seperti ruang eksekusi. Bau karat besi dan udara pengap yang berdebu memenuhi paru-paru Annora saat ia melangkah masuk, dipandu oleh tangan Mateo yang gemetar hebat. Annora memperhatikan setiap inci wajah Mateo—sudut bibirnya pecah, memar keunguan mulai menghiasi tulang pipinya, dan napasnya terdengar berat serta tidak teratur."Tuan, apa yang mereka lakukan pada Anda?" bisik Annora dengan suara bergetar, matanya berkaca-kaca. "Kenapa Anda membawa saya ke sini jika ini akhirnya?"Mateo tidak menjawab. Ia hanya bisa menatap lantai, bahunya merosot kalah. "Aku tidak punya pilihan, Annora," gumamnya, suaranya nyaris hilang ditelan keheningan gudang yang luas itu. "Maafkan aku."Di ujung ruangan, Nelson berdiri dengan angkuh. Tangannya yang kasar terlipat di dada, matanya menatap tajam ke arah mereka berdua dengan seringai yang membuat bulu kuduk Annora berdiri. Di belakangnya, lima orang pria bertubuh kekar, pengawal pribadi Nelson, berbaris rapi sep
Last Updated : 2026-06-05 Read more