Perpisahan Paling SunyiKeesokan sorenya, cahaya matahari musim gugur memancarkan rona kemerahan yang redup di atas hamparan salju abadi Pegunungan Alpen. Udara terasa dingin, namun kehangatan palsu yang coba diciptakan di dalam rumah itu jauh lebih menyesakkan dada. Di ruang depan, Jae Won berdiri di samping kopernya dengan mantel tebal yang membalut tubuh tegapnya. Wajahnya pucat, menyisakan jejak kelam dari malam panjang yang dilewatinya tanpa tidur.Annora berdiri di hadapannya, mengenakan cardigan wol rajut berwarna krem. Ia berusaha keras menampilkan senyuman paling manis di bibirnya, menahan gelombang sesak dan air mata yang mendesak hendak tumpah. Annora tahu, jika ia menangis, Jae Won akan semakin berat melangkah."Kau benar-benar harus pergi sekarang, Jae Won?" tanya Annora pelan, suaranya bergetar halus meskipun ia mencoba membuatnya terdengar tegar.Jae Won mengangguk kaku. Ia melangkah mendekat, lalu merengkuh tubuh Annora ke dalam pelukannya. Hangat, erat, dan begit
Mehr lesen