Share

Bab 131

Penulis: Fei Adhista
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-25 22:54:35

Keputusan itu tidak diumumkan dengan gemuruh.Tidak ada upacara. Tidak ada saksi.

Raras menyampaikannya dengan suara datar, tepat setelah matahari condong ke barat dan bayang-bayang istana memanjang di lantai marmer.

“Aku akan ikut seleksi,” katanya.

Raja Wanasari berhenti menulis. Tinta menetes sedikit di ujung pena, meninggalkan noda kecil yang biasanya akan membuatnya kesal kali ini tidak.

“Kau yakin?” tanyanya, perlahan.

“Tidak,” jawab Raras jujur. “Tapi aku lelah berperang di semua arah.”

Raja mengangguk. Bukan senyum kemenangan, melainkan napas panjang seorang ayah yang akhirnya diberi jeda.

“Baik,” katanya. “Kalau begitu, kita akan melakukannya dengan benar.”

Ia menepuk tangan dua kali.

“Panggil Mbok Nini.”

Dan sebelum Raras sempat bertanya siapa itu Mbok Nini, Raja menambahkan, “Dan Alin. Dayang istana. Yang sabar.”

Kata terakhir itu diucapkan dengan penekanan aneh. Terlalu aneh.

Tak lama kemudian, pintu terbuka.

Yang pertama masuk adalah seorang perempuan tua bertubuh kecil, p
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Asmaraloka Sang Putri Pusaka    Bab 142

    Ruang bawah istana Majakirana tidak lembap.Ia terlalu bersih untuk disebut penjara.Obor-obor perunggu berjajar rapi, cahaya mereka memantul pada lantai batu hitam yang licin. Bau dupa tipis menggantikan bau darah, cara Majakirana menyembunyikan kekejamannya.Arum berlutut di tengah ruangan.Tangannya terikat ke belakang, namun punggungnya tetap tegak. Wajahnya lebam, bibirnya pecah, tapi matanya masih berani menatap lurus.Langkah sepatu bergema.Pangeran Haryo Wirabumi masuk tanpa pengawal.Jubahnya rapi, Wajahnya tampan, tenang terlalu tenang untuk seseorang yang memegang nyawa orang lain.“Arum,” katanya pelan.“Sebutkan namamu, dan katakan pada siapa kau bekerja.”Arum tersenyum tipis, darah mengering di sudut bibirnya.“Aku hanya pengelola penginapan,” jawabnya lirih. “Salahkah perempuan tua mencari makan?”Haryo berhenti tepat di hadapannya.Ia berjongkok, menyamakan tinggi mata mereka.“Kau terlalu cerdas untuk berbohong buruk seperti itu,” katanya lembut. “Dan terlalu berhar

  • Asmaraloka Sang Putri Pusaka    Bab 141

    Langkah kaki tergesa terdengar di lorong penginapan.Rakai dan Raras serempak menoleh ketika Arya muncul di ambang pintu. Napasnya masih tersengal, wajahnya tegang, mata yang biasanya ringan kini dipenuhi bayang cemas.“Rakai,” katanya cepat. “Raras.”Raras langsung berdiri. “Alin mana?”“Aman,” potong Arya. “Alin bersama Reyas. Tapi… Arum.”Satu kata itu cukup membuat udara di ruangan berubah berat.“Apa yang terjadi?” tanya Rakai, nada suaranya rendah tapi tajam.Arya mengusap wajahnya sebentar, seolah menyusun ulang pikirannya. “Penginapan itu kosong. Terlalu kosong. Tidak ada tanda perkelahian besar, tapi jelas ditinggalkan terburu-buru. Barang-barang Arum masih ada pisau kecilnya, tas obat, tapi dia tidak ada.”Raras menutup mulutnya, jantungnya berdebar keras. “Mungkin dia pergi sendiri?”Arya menggeleng. “Tidak. Ada jejak. Seseorang menariknya. Dan penjaga sekitar penginapan… seolah tidak pernah mengenalnya. Mereka diam tak mau bersuara."Rakai berdiri. Gerakannya tenang, tapi

  • Asmaraloka Sang Putri Pusaka    Bab 140

    Tabib itu menutup kelopak mata Reyas perlahan. Tangannya berhenti terlalu lama di dada pria itu, seolah sedang menimbang sesuatu yang tidak ingin ia ucapkan.“Racunnya sudah menjalar,” katanya akhirnya. Suaranya datar, terlalu tenang untuk kabar seburuk itu. “Bukan cepat. Tapi pasti.”Rakai menegang. “Berapa lama?”Tabib itu menghela napas. “Hari, mungkin minggu. Tergantung tubuhnya. Racun ini tidak membunuh dengan tergesa. Ia mematikan harapan pelan-pelan.”Raras yang berdiri di sisi ranjang Reyas membeku. Tangannya masih menggenggam kain basah di dahi sepupunya itu. Wajahnya yang sejak tadi pucat kini benar-benar kehilangan warna.“Tidak,” bisiknya. “Tidak mungkin…”Kepalanya berdenyut keras. Ruangan terasa berputar. Bau ramuan yang tadinya pahit kini menusuk. Raras terhuyung satu langkah.“Raras,” Rakai cepat menangkapnya.Namun lututnya sudah melemah. Pandangannya mengabur, suara Rakai terdengar jauh, seperti tenggelam di air. Dunia menghitam sesaat tidak sepenuhnya pingsan, tapi

  • Asmaraloka Sang Putri Pusaka    Bab 139

    Kabut Pasren tidak seperti kabut perbatasan.Ia tipis, dingin, dan berbau logam serta rempah, belum lagi bau dagangan, bukan bau perang.Perahu mereka merapat pelan di dermaga kayu. Begitu kaki pertama menginjak tanah Pasren, sesuatu langsung berubah.Bukan suasana, melainkan tatapan.Para pedagang menghentikan timbangannya. Kuli angkut menahan karung di bahu. Penjaja kain menurunkan suara tawarnya.Semua mata tertuju pada satu hal, pria pingsan yang dipanggul di antara mereka.Reyas.Wajahnya pucat, napasnya dangkal, kain di dadanya basah oleh keringat dingin. Di Pasren, orang datang membawa emas, rempah, dan perjanjian, bukan tubuh hampir mati.Langkah mereka terhenti saat dua penjaga Pasren menghadang di gerbang kayu bercat hitam. Tidak berseragam kerajaan. Tidak pula membawa lambang. Hanya tombak pendek dan mata yang terlatih membaca kebohongan.“Berhenti,” ujar salah satu penjaga. Suaranya datar.“Pasren tidak menerima konflik.”Rakai melangkah setengah ke depan, tubuhnya otomati

  • Asmaraloka Sang Putri Pusaka    Bab 138

    Ketua Bayang diikat pada batang pohon tua di tepi sungai. Tali kasar melilit pergelangan dan dadanya, cukup kuat untuk menahan, cukup ketat untuk membuatnya sulit bernapas. Topeng besinya sudah dilepas dan tergeletak di tanah, dingin dan tak berguna.Raras berdiri di hadapannya.Wajahnya pucat, rambutnya basah oleh air sungai dan keringat, tapi sorot matanya tajam. Tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja hampir tumbang.“Siapa yang menyuruhmu,” ulang Raras. Tidak keras. Tidak mengancam.Ketua Bayang tersenyum miring, darah mengering di sudut bibirnya.“Kau selalu bertanya hal yang sama,” katanya serak. “Dan selalu lupa orang sepertiku tidak bekerja untuk satu nama.”Rakai berdiri di sisi Raras, pedang masih di tangan. Urat di rahangnya menegang.“Kau memimpin Bayang. Tidak ada yang menggerakkanmu tanpa bayaran besar.”Ketua Bayang tertawa kecil, batuk di akhir tawanya.“Bayaran?” Ia menggeleng pelan. “Kalian raja-raja kecil tidak pernah paham. Ada hal yang lebih mahal d

  • Asmaraloka Sang Putri Pusaka    Bab 137

    Kabut pagi belum sepenuhnya terangkat ketika mereka tiba di bibir sungai perbatasan.Airnya lebar, arusnya tenang tapi dalam, jenis sungai yang tampak ramah namun menyimpan kematian bagi yang lengah.Sebuah perahu kayu tua terikat di batang pohon, siap dipakai menyeberang. Di seberang sana, tanah Pasren benar-benar berakhir. Setelah itu, wilayah netral yang tidak tunduk pada siapa pun.Rakai menurunkan ransel. Arya memeriksa tali perahu. Reyas berdiri agak jauh, masih pucat tapi memaksa diri tetap tegak. Raras berdiri paling belakang, satu tangannya menekan bahu yang masih nyeri, wajahnya pucat namun fokus.“Kita menyeberang cepat,” kata Rakai. “Sekali di tengah sungai—”Anak panah menancap di papan perahu.Bukan peringatan.Serangan.Kabut di seberang sungai bergerak.Bukan karena angin, tapi karena langkah.Satu sosok maju lebih dulu, tubuhnya tinggi, dibalut pakaian hitam tanpa lambang. Wajahnya tertutup setengah topeng besi tipis. Di belakangnya, bayangan lain bermunculan sepuluh,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status