“Ssssshhh …,” desahan itu keluar tanpa kontrol. Bagaimana pun, sekuat apa pun Dinda menahan, suara merdunya mendesak. Rasa panas dari dalam tubuh membuat napasnya berderu cepat.“Dinda?” bisik Randy lagi. Dan … ugh, sialnya, bibir pria itu terasa halus dan napas hangatnya menyapu daun telinga. “Sayang, Dinda? Saya tidak bisa nunggu lagi.” Suara Randy tegas.Mata Dinda mengerjap perlahan dan bulu kuduknya sangat-sangat merinding. Bahkan jantungnya berdentum keras seperti genderang yang dipukul bertalu-talu, saat merasakan ujung hidung Randy menyesap aroma lehernya.Ya, Dinda tahu, malam ini ia tidak bisa lagi mengelak di balik selimut atau pura-pura terlelap.Di balik rasa panas yang mulai menjalar ke seluruh saraf, jujur saja ada ketakutan yang membeku di hati. Dinda, membayangkan cerita menyebalkan dari teman-temannya, tentang suami yang egois di atas ranjang, bagaimana rasa sakit yang tak tertahankan, atau lebih buruk lagi, seputar fakta kekecewaan pria jika sang wanita tidak bisa me
Read more