เข้าสู่ระบบTeman Teman maaf ya kemarin nggak Update T.T
"Ray! Bangun, Ray! Jangan buat aku takut!" Jeritan melengking itu membelah kebisingan klakson dan deru mesin kendaraan yang mendadak mengerem.Istri Raymond menghambur ke tengah aspal. Ia tidak peduli bahaya yang mengancam nyawanya. Wanita itu berlutut, lalu memangku kepala Raymond yang sudah terkulai lemas dengan mata terpejam."Papi! Bangun, Pi! Tolong! Siapa pun tolong suami saya!" histeris istri Raymond sambil menepuk-nepuk pipi sang suami yang kian memucat.Kerumunan orang mulai mengelilingi titik kecelakaan, sayangnya tidak ada satu pun yang berani menyentuh tubuh Raymond yang terkapar. Para pengendara mengeluarkan ponsel, sibuk menghubungi ambulans atau sekadar merekam kejadian.Raymond tiba-tiba kejang-kejang. Mata pria itu mendelik ke atas dengan napas yang terdengar berat. Istrinya mencoba menahan guncangan tubuh itu dengan sekuat tenaga. Sedangkan beberapa warga mulai menginterogasi pengemudi mobil yang menabrak."Dia tiba-tiba menyeberang! Saya tidak tahu, saya sudah injak
Setelah satu jam yang penuh dengan poles sana-sini riasan dan debar jantung yang tidak keruan, pintu kamar perlahan terbuka. Dinda sudah berhasil ditengankan, usai berkeringat banyak.Tak lama ia muncul dengan anggunnya. Dinda berjalan penuh kehati-hatian diiringi barisan pengiring pengantin yang terdiri dari rekan-rekan sejawat dokternya. Balutan kebaya modern putih karya Diana itu tampak berkilauan, membuat Dinda terlihat seperti hidup dalam mimpi yang indah.Tepat di depan pelaminan, Randy sudah berdiri dengan tegak. Setelan jas yang pas di badan tidak mampu menyembunyikan getaran di tangannya. Mata pria itu terkunci pada sosok Dinda yang kian mendekat, membuatnya lupa cara bernapas.Sedangkan di samping Randy, Dirga berdiri dengan gagah dalam balutan tuksedo hitam yang menambah kesan karismatik.Menyadari asisten sekaligus orang kepercayaannya itu mulai pucat karena gugup, Dirga sedikit mendekat. Ia menepuk bahu Randy."Tarik napas dan embuskan perlahan, Randy, jangan memalukan. In
Bu Rima masih mematung di lorong menuju toilet, di balai desa. Matanya berkaca-kaca, terasa panas oleh desakan penyesalan yang membuncah. Ucapan pemilik katering tadi terus berdenging di telinganya. Ia teringat betapa sering ia membanggakan Riska, hanya karena gadis itu rajin.Padahal, Riska tidak perlu sampai berbohong sejauh itu. Jika memang tidak bisa memasak, Bu Rima pun tidak akan pernah memaksanya."Pilihan Randy memang benar," gumam Bu Rima. Setetes air mata akhirnya jatuh, membasahi punggung tangannya. "Maafkan Ibu, Randy ... maafkan Ibu, Dinda."**Siang harinya, Bu Rima duduk di teras rumahnya yang teduh. Ia mengeluarkan ponsel jadul miliknya dari saku. Ia mencari secarik kertas kecil di dalam dompet, kertas yang diberikan Dinda.Jemarinya yang keriput menekan satu demi satu angka di layar ponsel dengan gemetaran. Ada rasa malu yang hebat, bercampur kerinduan akan suara ceria gadis itu tiba-tiba menyeruak begitu kuat di dalam hati.Telepon tersambung setelah nada tunggu yang
Meskipun Dirga memberi Randy jatah satu hari libur lagi, tetapi pemuda itu ingin sekali masuk kantor. Alasannya, Randy tahu, sudah tentu pekerjaan yang menumpuk. Meskipun selama ia cuti ada penggantinya, Laras. Mana mungkin seorang Dirgantara membiarkan istrinya terlalu keras bekerja?“Semua proyek klinik gratis sudah dikunjungi, Pak?” tanya Randy yang memeriksa jobdesk-nya di tablet.Ternyata … Laras bisa diandalkan. Lumayan membantu Randy karena satu pekerjaannya selesai. ‘Terima Dokter Laras,’ batin Randy.“Ya, itu sudah selesai. Atur kunjunag dua minggu lagi!” titah Dirga dari kursi kebesarannya.“Baik, Pak.” Randy langsung mengotak-atik tabletnya.“Kapan kamu menikah? Sudah dapat restu bukan? Sebaiknya segera!!!” Perintah Dirga lagi, terdengar memaksa malah.Randy sedikit menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Sedang saya urus administrasinya, Pak. Kalau tidak ada halangan, mungkin bulan depan kami akad. Saya ingin semua beres dulu supaya Dinda juga tenang."Dirga menghentikan g
Setelah melalui perjalanan panjang dan memakan waktu berjam-jam, akhirnya pukul delapan malam, mereka tiba di ibu kota. Tujuan pertama bukanlah hunian masing-masing, melainkan apartemen Dirga yang tidak jauh dari kontrakan Dinda.Bel ditekan.Sungguh Dinda tidak sabar bertemu keluarganya, selain membagi oleh-oleh, tentu ingin cerita pada Laras.Pintu terbukaBi Ratih menyembulkan kepala dengan senyum ramah dan mata mengedip genit, lantaran sebelumnya melihat ekspresi malu-malu pasangan ini melalui lubang intip di pintu.“Bi Ratih!” seru Dinda. Ingin rasanya menghambur memeluk wanita yang sudah ia anggap ibu. Namun, mengingat tangannya yang penuh dengan bungkusan oleh-oleh, ia pun mengurungkan niat.“Duh, calon penganten. Ayo, masuk, Pak Randy, Nak Dinda.” Ratih melebarkan pintu.Dinda melangkah ke ruang tengah. Pemandangan pertama yang menyambutnya adalah Laras yang tengah menimang salah satu bayi kembar. Namun, ia tertegun sejenak, mengingat-ingat apakah yang digendong itu Laksa atau
Randy beranjak dari duduknya, dan bibir Bu Rima sudah terbuka, tetapi lidahnya terlalu kebas untuk berkata-kata, seperti ada yang menahannya. Wanita paruh baya itu pun hanya bisa memandangi tubuh putra sulung yang menuju kamar belakang. Namun, Bu Rima terus saja menatap ke sana.“Ibu kenapa? Ada yang ganggu pikiran?” tanya Randy, sebab tidak biasanya wanita paruh baya itu tampak berpikir keras, seperti tengah menimbang-nimbang hal berat.Bu Rima mendekat, telapak tangannya mengelap keringat pada pinggiran daster. "Kamu serius mau nikahi anak kota itu?"Randy menarik napas panjang, menatap ibunya tanpa keraguan sedikit pun. "Iya, Bu. Serius. Hanya Dinda yang Randy mau jadi pendamping hidup."Keheningan seketika menyelimuti mereka, sebelum Bu Rima kembali bersuara. "Apa nggak bisa kamu buka hati untuk perempuan lain? Seperti anak Pak Lurah yang sudah jelas asal-usulnya?"Senyum tipis tersungging di bibir Randy. Ia menggeleng tegas, karena memang pilihan lain tidak pernah ada dalam kamus







