Sebelum hari benar-benar berubah gelap, Dirga membawa anak-anaknya menjemput Laras di Bandung.“Salam dulu sama Kakek, Nenek, dan Kak Rama,” kata Dirga, mengelus pelan bahu si kembar.“Siap, Papi,” seru keduanya, yang kemudian menyalami Raymond dan istrinya. Namun mereka berhenti tepat di depan Rama.“Kakak, kapan-kapan main ke rumah kita, ya. Kita juga punya kolam ikan, tapi ikannya warna-warni, bukan hitam semua kayak punya kakek,” jelas Leksa, lalu merrangkul pinggang Rama, disusul Laksa juga yang memeluk hangat. Rama spontan berjongkok, ia juga ingin mencium aroma si kecil yang sekarang barbau kolam.“Kita seneng punya kakak besar, iya, ‘kan Leksa?” tanya Laksa, senyumnya mengembang.Dengan suara ragu-ragu, Rama menjawab, "Iya ... nanti … Kakak Rama pasti main ke sana." Pemuda itu bersusah payah tersenyum, meskipun terasa kecut di hati. Bayangan wajah Laras yang marah dan pasti akan mengusirnya mentah-mentah jika ia berani menampakkan diri di rumah Dirga, langsung terlintas di
Mehr lesen