Malam itu hujan turun pelan, seperti tidak ingin mengganggu apa pun.Ruang rawat inap yang semula penuh orang kini kembali hening. Lampu temaram menyala, tirai setengah terbuka, dan suara hujan di luar jendela menjadi latar yang konstan—menenangkan sekaligus menyimpan gema ketakutan yang belum sepenuhnya pergi.Keinarra terbangun dengan napas tersengal.“Mas….”Reyhan langsung bangkit dari kursi. Bahkan sebelum Keinarra membuka mata sepenuhnya, tangan Reyhan sudah berada di pundaknya, hangat, nyata.“Mas di sini,” katanya cepat. “Aku di sini, Kei.”Keinarra berkedip, matanya liar sesaat, seperti mencari pintu keluar dari mimpi yang menjeratnya. Keringat membasahi pelipisnya, jari-jarinya mencengkeram selimut erat.“Mereka…,” suaranya bergetar. “Aku mimpi… gelap… bau laut….”Reyhan naik ke tepi ranjang tanpa ragu. Ia menarik Keinarra ke dalam pelukannya, hati-hati agar tidak menekan perut istrinya.“Sudah selesai,” bisiknya berulang-ulang. “Semua sudah selesai. Tidak ada siapa
Last Updated : 2025-12-22 Read more