Pagi ini rumah begitu sepi. Alana sudah selesai sarapan, piring dan gelas sudah ia cuci. Sunyi terasa asing, karena biasanya ada suara mama yang sibuk bersiap, atau suara papa bercanda kecil dengan Nero. Tapi hari ini, mereka semua sudah pergi lebih dulu.Alana menenteng tasnya, bersiap berangkat ke kampus. Baru saja ia hendak mengunci pintu, suara deru mesin motor memecah kesunyian.“Braaap!”Sebuah motor sport berhenti di halaman rumah. Helm hitam mengilap menutupi wajah si pengendara. Alana sempat terdiam, alisnya berkerut heran.Saat kaca helm terangkat, jantungnya berdetak lebih cepat.“Kak Axel?!” seru Alana terkejut.Axel menatapnya singkat, lalu menurunkan sedikit masker hitam di lehernya. “Naik. Aku antar.”Alana langsung menggeleng. “Nggak usah, aku bisa sendiri.”Axel tidak peduli. Ia menyalakan motor, suaranya meraung lebih keras. “Jangan buang waktu, Cil. Naik sekarang.”Alana menggertakkan giginya. “Aku—”Sebelum ia sempat menolak lagi, Axel sudah turun dari motor, mende
최신 업데이트 : 2025-09-26 더 보기