MasukDebu peperangan yang menyelimuti perbatasan perlahan luruh, digantikan oleh panji-panji Naga Perak yang berkibar gagah di bawah langit biru menuju Ibukota Mingyue. Barisan pasukan Longyan berbaris panjang, langkah kaki mereka yang serempak menciptakan irama kemenangan yang menggetarkan jalanan utama kota. Rakyat berdiri di sisi jalan, bersorak-sorai melepaskan bunga-bunga sebagai tanda syukur atas perdamaian yang berhasil direbut kembali dari ambisi Kasgan dan para pemberontak. Di barisan depan, Han Feng dan Bai Xiang berkuda berdampingan, diikuti oleh Zhu Yu Liang yang terus berada di sisi kereta kuda Wen Mei. Sesampainya di depan gerbang istana yang megah, Kaisar sudah menunggu di atas podium tinggi, didampingi oleh para pejabat istana yang kini telah bersih dari pengaruh Cao Bing. "Hamba, Han Feng, Panglima Tertinggi Pasukan Longyan, melaporkan bahwa ancaman dari barat telah dipadamkan, dan para pengkhianat telah menerima pengadilannya!" Han Feng turun dari kuda dan berlutut
Angin di dataran gersang perbatasan berdesing kencang, membawa aroma belerang dan debu sisa ledakan dari medan pertempuran yang masih membara di kejauhan. Di atas sebuah tebing batu yang menjorok tinggi, menghadap langsung ke arah perkemahan Kasgan yang kini porak-poranda, dua sosok berdiri berhadapan. Jin Peng, sang iblis yang telah kehilangan kejayaannya, tampak goyah. Jubah abu-abunya compang-camping, tercemar darah dari luka perutnya yang terus merembes. Di hadapannya, Bai Xiang berdiri tegak dengan rambut putih yang berkibar liar. Ia menggenggam pedang, yang berkilau dingin tertimpa cahaya matahari senja. "Masih saja mengejarku hingga ke ujung bumi ini, Xiang?" Jin Peng terbatuk, tawanya terdengar seperti gesekan batu nisan di tengah padang sunyi. "Kau benar-benar murid yang patuh. Bahkan setelah aku menghancurkan keluargamu, kau masih ingin memberikan penghormatan terakhir dengan membunuhku di tanah terkutuk ini?" Bai Xiang tidak langsung menjawab. Ia mengangkat pedangnya,
Debu peperangan masih membubung tinggi di sisi barat medan tempur. Cao Bing, pria yang dulu berjalan di aula istana dengan dagu terangkat, kini merangkak di atas tanah yang becek oleh darah. Ia mencoba melarikan diri ke arah kuda-kuda Kasgan yang tertambat di balik gundukan pasir, wajahnya yang angkuh kini kusam oleh debu dan ketakutan yang murni.Namun, langkah pengecut itu terhenti secara paksa. Sebuah tombak panjang dengan mata perak yang berkilat tajam menghujam bumi tepat satu inci di depan kakinya. Getarannya begitu hebat hingga membelah tanah."Mau lari ke mana, Pengkhianat?"Suara itu berat dan sarat akan kebencian. Zhu Yu Liang melangkah keluar dari kabut debu yang pekat. Zirah beratnya telah kehilangan kilau emasnya, tertutup oleh lumuran darah musuh yang mulai mengering. Namun, di balik kotornya medan perang, tatapannya tetap setajam elang, dingin dan menusuk. Ia mencabut tombaknya dari tanah dengan satu sentakan kuat, memutar senjata itu dengan kemahiran yang menakutka
Lembah perbatasan yang dulunya merupakan hamparan hijau kini telah berubah menjadi pemakaman terbuka yang menyesakkan. Di tengah hiruk-pikuk teriakan maut dan ringkikan kuda yang meregang nyawa, sebuah ruang kosong tercipta secara alami di pusat palagan. Di sana, dua kutub kekuasaan akhirnya berhadapan: Han Feng dan Azhren, berdiri di atas tumpukan zirah dan patahan tombak yang berserakan.Han Feng mengencangkan genggaman pada hulu pedang pusakanya. Napasnya teratur, namun matanya mengunci setiap gerak-gerik lawan. Di sekeliling mereka, kavaleri Kasgan dan Pasukan Longyan masih bertumbukan layaknya ombak raksasa yang menghantam karang, namun bagi sang Jenderal, dunia seolah menyempit hanya pada mata elang Azhren yang berkilat haus darah."Kau datang juga, Jenderal tua!" Azhren berteriak, suaranya membelah kebisingan logam yang beradu. Ia memacu kudanya dalam jarak pendek, pedang lengkung khas barat miliknya terangkat tinggi."Aku datang untuk menepati janjiku, Azhren!" balas Han F
Lembah perbatasan yang biasanya sunyi senyap, kini bergetar hebat di bawah derap ribuan kuku kuda yang menghantam bumi. Kabar mengenai invasi "Serigala-Serigala Utara", sebutan bagi pasukan Kasgan yang haus darah, telah menyebar secepat api yang melahap rumput kering. Namun, Mingyue tidak lagi terpecah. Raja-raja wilayah yang selama ini saling berselisih, kini bangkit bersatu di bawah satu panji kehormatan, membentuk aliansi perkasa: Pasukan Longyan.Han Feng berdiri tegak di atas bukit kecil, sebuah titik strategis yang memungkinkannya memantau bentangan cakrawala. Di seberang sungai yang menjadi garis batas terakhir, hamparan tenda kulit bangsa Kasgan tampak memenuhi lembah seperti barisan sisik naga purba. Di belakang Han Feng, barisan infanteri dan kavaleri gabungan Mingyue membentang luas, nyaris tanpa ujung. Hutan tombak berkilauan tertimpa sinar matahari yang pucat, menciptakan pemandangan yang sanggup meruntuhkan nyali siapa pun yang memandangnya.Namun, di balik sepasang ma
Angin barat menderu ganas, membawa butiran pasir ke daratan wilayah perbatasan gurun. Di antara deretan tenda kulit binatang yang kokoh dan panji-panji , dua sosok tampak berjalan tertatih, menyeret bayangan mereka sendiri yang rapuh di bawah sinar bulan. Cao Bing, sang pengkhianat yang dulu diagungkan di istana, kini tampak seperti gelandangan terhina. Jubah mewahnya sobek di sana-sini, tercemar oleh debu dan darah kering. Di sampingnya, Jin Peng tampak jauh lebih menyedihkan. Sang master pedang itu menekan luka di perutnya yang terus merembeskan cairan merah pekat, wajahnya sepucat kertas, dan napasnya terdengar seperti gesekan logam karatan. Mereka telah sampai di markas besar pasukan Kasgan, sebuah benteng tenda yang luas, dipenuhi oleh prajurit-prajurit bertubuh raksasa. "Identitas kalian!" gertak seorang penjaga gerbang dengan tombak menyilang. Suaranya berat, khas dialek bangsa padang pasir yang kasar. "Aku ... Cao Bing," desis Cao Bing sambil mengangkat sebuah lencana







