Saat Li Hua terbangun dari tidurnya, cahaya pagi yang lembut sudah menyelinap masuk melalui celah-celah tirai sutra yang mewah. Ia terdiam sejenak, merasakan kekosongan di sisi ranjang. Han Feng sudah tidak ada di sana. Sisi tempat tidur yang ditidurinya tadi malam memang sudah dingin, namun kehangatan kenangan semalam—pelukan erat suaminya, bau rempah dan maskulin yang menenangkan—masih menempel kuat di tubuh dan benaknya, terasa seperti api yang membara pelan.Li Hua mengangkat tangan, menyentuh bibirnya sendiri—bibir yang semalam dicium lembut oleh Han Feng. Ia menutup mata, membiarkan seluruh ingatannya merayap kembali.Ia mengingat bagaimana Han Feng, yang selalu terlihat dingin dan tegar seperti baja tempaan, menundukkan kepala dan menyentuh bibirnya perlahan. Awalnya Han Feng tampak ragu, hanya menekan lembut bibir Li Hua, seolah takut sentuhannya akan melukai. Lalu bibir itu bergerak, sedikit mengisap bibir bawahnya dengan ritme halus yang membuat napas Li Hua tercekat, lu
Read more