Share

Bab 75

Penulis: Wei Yun
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-24 13:22:52

Han Feng terus memacu kudanya bagaikan petir membelah malam. Debu berhamburan setiap kali kaki kuda menghantam tanah. Hembusan angin dingin menusuk wajahnya, tetapi ia tidak memperlambat laju sedikit pun. Hatinya bergemuruh, pikirannya hanya terisi satu nama “Xiang … tunggulah aku.”

Rasa panik yang membara membuat napasnya terasa sesak. Ketika akhirnya cahaya lentera dermaga sungai Lian He terlihat di kejauhan, ia memacu kudanya lebih cepat lagi. Hingga ketika ia tiba di dermaga, pemandangan pertama yang dilihatnya membuat darahnya membeku.

Sebuah kapal kayu besar baru saja melepaskan tali tambang terakhir dan mulai bergerak menjauh ke arah selatan.

​Istrinya telah diculik dan kemungkinan besar disembunyikan dalam gulungan karpet yang ada di dalam kapal itu. Waktu adalah musuh, dan setiap detik yang terbuang berarti Li Hua semakin mendekati maut.

​"Hentikan! Hentikan kapal itu!" teriak Han Feng, suaranya serak dan putus asa. Namun, dermaga itu adalah lautan manusia, hiruk pikuk te
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Sri Wahyuningsih
sedih banget ceritanya kak.. tunggu bab berikutnya berasa lama sekali... kembalikan ingatan Xiang kak.. kasian jendral han Feng
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 150

    Lampu minyak yang temaram di kamar sempit Markas Longyan bergetar pelan ditiup angin malam. Bai Xiang sedang merapikan kain penutup pembaringan yang kusut di ranjang Han Feng, mencoba menciptakan kenyamanan di tengah suasana markas yang tegang. Tiba-tiba, sepasang lengan yang kuat melingkar di pinggangnya dari belakang, menariknya masuk ke dalam dekapan yang erat dan posesif. ​Bai Xiang tersentak. Refleks bertarungnya hampir saja meledak untuk melakukan jurus mengelak, namun tubuhnya mematung ketika sebuah bisikan hangat menyentuh telinganya. ​"Huahua ... aku sangat merindukanmu," bisik Han Feng dengan suara serak, menyandarkan dagunya di bahu Bai Xiang. ​Bai Xiang tetap berdiri kaku. Ia bukanlah Li Hua—sosok lembut yang memiliki kepekaan emosional luar biasa terhadap suaminya. Jika wanita di pelukan Han Feng saat ini adalah Li Hua, ia pasti sudah membalikkan tubuhnya dengan manja, mengalungkan tangan di leher Han Feng, dan membalas kerinduan itu dengan ciuman yang dalam. Namun, B

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 149

    Udara dingin Da Shan yang semula sunyi kini pecah oleh deru api dan teriakan kematian. Zhu Yu Liang memacu langkahnya keluar dari pintu rahasia di belakang aula utama, tangannya mencengkeram erat jemari Wen Mei yang gemetar. Di luar, pasukan Mingyue yang tadinya bersembunyi telah memulai serangan balasan untuk mengalihkan perhatian, namun jumlah musuh yang terlalu besar membuat keadaan semakin kritis.​"Itu mereka! Di sana! Tangkap Putri!" sebuah teriakan serak menggelegar dari arah halaman samping.​Sekelompok pria berpakaian hitam dengan pedang terhunus melesat mengejar mereka. Yu Liang tidak punya pilihan. Ia segera bersiul nyaring, sebuah kode khusus yang hanya dimengerti oleh kuda tunggangannya. Dari kegelapan hutan, seekor kuda hitam besar menerjang masuk, menabrak dua penyusup hingga terpental sebelum berhenti tepat di depan Yu Liang.​"Naik, Tuan Putri! Sekarang!" Yu Liang mengangkat tubuh Wen Mei ke atas pelana dengan satu hentakan kuat, lalu ia melompat naik di belakangnya.

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 148

    Angin malam menderu kencang, menusuk hingga ke tulang saat Zhu Yu Liang memacu kudanya mendaki lereng terjal menuju puncak bukit Da Shan. Medan yang berbatu dan curam membuat pasukan Mingyue yang ia pimpin harus berjuang ekstra keras. Beberapa kali kaki kuda mereka tergelincir, memaksa mereka melambat di jalur yang hanya cukup dilewati satu kuda. ​"Panglima, medan ini terlalu berbahaya untuk dipacu lebih cepat!" teriak salah satu letnannya di tengah deru angin. ​"Kita tidak punya waktu!" balas Yu Liang tanpa menoleh. "Setiap detik yang kita buang adalah langkah Cao Bing mendekati Putri. Terus maju!" ​Begitu mereka mencapai gerbang luar Biara Da Shan, bau anyir darah segera menyergap indra penciuman mereka. Yu Liang menarik kekang kudanya hingga hewan itu meringkik nyaring. Di depan mata mereka, kedamaian biara telah berubah menjadi ladang pembantaian. Obor-obor yang terjatuh membakar sebagian pintu kayu, menyinari sosok-sosok berpakaian hitam yang sedang membantai para biksuni dan

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 147

    Lentera di ruang kerja Markas Longyan menari-nari ditiup angin malam yang menyusup dari celah jendela, membiaskan bayangan tiga orang yang tengah berkumpul dengan raut wajah tegang. Aroma tajam dari obat-obatan herbal meruap di udara.​Bai Xiang bergerak dengan jemari terampil dan penuh kelembutan. Ia mengoleskan ramuan obat racikannya pada luka di punggung dan bahu Han Feng. Sesekali Han Feng meringis kecil saat ramuan itu menyentuh luka yang sempat terbuka kembali akibat pertempuran di aula sidang tadi.Namun, perhatian sang Jenderal tidak teralih dari potongan kain gelap milik penyusup yang tergeletak di atas meja kerja.​"Aku tidak mengenali wajah mereka di balik penutup kain itu, tapi gerakannya ... aku mengenali pola serangan tersebut," ujar Bai Xiang pelan, matanya menyipit mengingat detail pertempuran yang kacau. "Langkah kaki mereka terlalu ringan untuk prajurit biasa. Serangan mereka sangat spesifik, selalu mengincar titik-titik saraf vital. Besar kemungkinan mereka berasal

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 146

    Lembah di pinggiran ibu kota itu dilingkupi kabut yang sangat tebal, menyembunyikan sebuah paviliun kayu tua yang tampak terbengkalai. Namun, di dalamnya, suasana justru mendidih oleh ketegangan dan amarah. Suara napas yang memburu dan aroma kecemasan memenuhi ruangan utama yang remang-remang.​PLAK!​Suara tamparan keras memecah kesunyian malam. Selir Agung Wu berdiri dengan napas tersengal, telapak tangannya masih terasa panas setelah menghantam pipi Menteri Militer Cao Bing. Matanya yang biasanya penuh tipu daya, kini berkilat oleh kemurkaan yang murni.​"Kau gila, Cao Bing! Apa yang kau lakukan tadi di ruang sidang?!" teriak Selir Agung Wu dengan suara melengking. "Rencana kita adalah menghancurkan Han Feng secara perlahan lewat hukum! Tapi kau justru mengirim pasukan penyusup dan menyerang pengadilan secara terbuka!Kau membuat kita menjadi buronan dalam semalam!"​Cao Bing terdiam sejenak, kepalanya sedikit tertoleh ke samping akibat tamparan itu. Perlahan, ia memutar lehernya,

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 145

    Gema teriakan "Penyusup! Lindungi Kaisar!" memecah keheningan Aula Sidang Militer seperti petir yang menyambar di siang bolong. Suara desingan anak panah segera disusul oleh dentuman keras pintu-pintu samping yang jebol secara paksa. Dari langit-langit aula yang tinggi, puluhan pria merosot turun menggunakan tali sutra hitam. Mereka mengenakan pakaian ketat berwarna legam dengan penutup wajah kain gelap yang hanya menyisakan celah sempit untuk mata mereka yang berkilat tajam. ​Gerakan mereka tidak seperti perampok biasa; mereka bergerak dengan presisi militer yang mematikan. Asap tebal mulai memenuhi ruangan saat beberapa bom asap dilemparkan ke tengah aula, menciptakan kekacauan instan di antara para jenderal dan menteri yang panik menyelamatkan diri. ​"Pasukan Longyan! Bentuk formasi lingkaran! Jaga Kaisar!" teriak Li Rui, menghunus pedangnya dan segera menarik Liu Ban, si tukang jagal, ke balik perlindungan pilar marmer yang besar. ​Di tengah kepulan asap dan denting senjata,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status