“Mom, mau susu,” rengek si cantik dengan suara kecil yang terdengar lemah. Hari itu Nia benar-benar manja dengan sang mommy. Sejak pagi, dia lebih banyak menempel pada Luna. Bahkan El dan Dika dibiarkannya bermain berdua tanpa ikut campur, sesuatu yang jarang sekali terjadi. Biasanya Nia selalu jadi yang paling ribut, paling heboh, dan paling nggak mau kalah kalau soal mainan. “Nia sakit, sayang?” tanya Luna sambil menoleh cepat. Ada rasa waswas yang langsung muncul di hatinya. Putrinya itu tidak pernah semanja ini tanpa alasan. Biasanya, kalau Nia mendekat dan merengek seperti ini, selalu ada sesuatu yang benar-benar mengganggunya. “Sakit kepala, Mom. Kayak ada yang cubit,” jawab Nia lirih. Wajahnya tampak pucat, matanya tidak secerah biasanya. “Astaga,” Luna refleks berseru pelan. Dia langsung menghentikan apa pun yang sedang dikerjakannya, lalu menghampiri gadis kecil itu. Dengan gerakan penuh kehati-hatian, Luna mengangkat tubuh Nia dan memangkunya, seolah takut anaknya semak
Last Updated : 2026-01-15 Read more