“CK! Mereka beli seisi butiknya kali ya, Mom. Cowok tapi lelet banget belanjanya,” ujar Nia mulai mengeluh.Luna mengusap kepala Nia, “kayak gak tahu Daddy aja. Kalau udah datang ke butik ini pasti lama.” seolah apa yang terjadi sekarang sudah menjadi kebiasaan Devan dan kedua anak laki-lakinya.“Tapi serius, lama banget. Samperin yuk, Mom.”Luna pun menyetujui permintaan anak gadisnya.Luna menatap tiga laki-laki kesayangannya yang sedang sibuk memilih pakaian di butik itu. Devan, Dika, dan El tampak serius memperhatikan setiap detail pakaian yang mereka pegang, saling bertukar pendapat, dan selalu menanyakan pada Devan apakah baju itu cocok untuk mereka atau tidak. Tidak ada satu pun pakaian yang mereka beli tanpa persetujuan sang ayah. Luna tersenyum melihat pemandangan itu, hatinya hangat sekaligus bangga. Anak-anaknya, walaupun sudah remaja dan dewasa, tetap menghargai pendapat ayah mereka, dan itu membuatnya merasa hangat sebagai seorang ibu.“Sayang,” panggil Luna lembut sambil
Read More