"Ya. Kalau kau sayang dan peduli padanya, kau tidak mungkin membiarkan ayahmu merusak kebahagiaannya. Kau mau dia bahagia, kan?" Philip mengangkat sebelah alis. Tatapan mengintimidasinya menusuk si bocah cilik. Tak kuat menghadapi tekanan sebesar itu, Andrew pun tertunduk. Sambil memperhatikan tangannya yang digips, ia bergumam kecil, "Tentu saja aku mau Briony bahagia. Dia adalah orang yang paling baik bagiku, yang paling peduli, dan paling sabar. Tidak ada yang bisa mengurusku sebaik dirinya. Hanya saja ...."Andrew menghela napas berat. Setitik air mata meleleh di pipinya—lambat, tulus, tidak dibuat-buat. "Bagaimana mungkin aku bisa berpisah darinya?" ucapnya lirih. Semua orang terdiam. Bahkan Philip tidak lagi bersuara. Ia sadar, bocah itu belum selesai bicara. Dalam keheningan, suasana menjadi lebih sendu dan muram. Andrew pun melanjutkan, "Berkat Briony, aku tahu kalau periksa gigi harus dilakukan minimal enam bulan sekali, harus makan brokoli supaya tulangku kuat, harus bers
Read more