Alex menarik napas sedalam-dalamnya. Kepalan tangannya tampak gemetar. Namun kemudian, ia mengambil kunci mobil dan ponsel dari dalam kotak. Matanya semakin merah saat ia menyerahkan barang-barang itu kepada sang wanita. "Bawalah," ucapnya serak. Briony ragu sejenak. Tidak mendeteksi kepalsuan di wajah Alex, barulah ia menerima sodoran. Kemudian, tanpa berkata apa-apa lagi, ia melangkah pergi. Tanpa senyuman, tanpa ucapan terima kasih. Karena barang-barang itu memang miliknya. Di samping itu, ia juga tidak mau membuat Alex salah paham dan kembali berharap. Sementara itu, Alex hanya bisa menatap punggung Briony menjauh. Hatinya tak rela, tetapi logika mengingatkan kakinya untuk tidak mengejar. "Mencampakkanmu adalah penyesalan terbesar dalam hidupku, Briony," ratapnya tak berdaya. Kemudian, dengan berat hati, ia tutup kotak di tangannya. Kenangan di dalam situ sudah tidak berguna. Hanya menyisakan sakit yang t
Read more