"Kenapa kamu nanya gitu?" Amanda langsung tersenyum tipis, meskipun hatinya tidak ikut tersenyum. “Nggak apa-apa,” katanya ringan. “Cuma nanya aja.” Suara Dimas kembali terdengar lebih tegas. “Amanda…” panggilnya, nada suaranya berubah. “Kamu jangan gampang OVT deh!” Amanda langsung diam. Alisnya perlahan berkerut. “Aku nggak suka kalau kamu jadi curigaan gini,” lanjut Dimas. “Aku lagi kerja. Sibuk. Udah itu aja! Kamu jangan mikir macam-macam!” Amanda mendengkus pelan. “Ya gimana aku nggak curiga?” balasnya, kali ini tidak lagi berusaha menutup-nutupi. “Kamu tiba-tiba susah dihubungi, terus tiap ditanya jawabannya gitu-gitu aja.” Dimas memilih untuk tidak memperpanjang. Amanda menghela napas, mencoba menurunkan emosinya. “Ya udah, aku bakal berhenti OVT,” katanya akhirnya, lebih pelan. ““Tapi…” lanjutnya, “kamu kapan pulang?” Lagi-lagi, Dimas diam. “Dim?” panggilnya lagi, sedikit mengernyit. "Aku akan pu—" Belum sempat dia melanjutkan ucapannya dan menutup telfonn
Read more