Acara pun akhirnya benar-benar dimulai. Beberapa kursi sudah ditata menghadap ke area kecil yang dijadikan semacam “panggung” sederhana. Lampu taman dinyalakan lebih terang, menciptakan suasana hangat sekaligus meriah.Dan di sana, Gio berdiri. Mikrofon di tangannya, postur tegap, ekspresi tenang seperti biasa. Seolah tidak ada apa-apa. Seolah tidak ada yang mengganjal di dalam dirinya.“Selamat malam semuanya…” suaranya terdengar profesional. Beberapa tamu langsung memperhatikannya. “Terima kasih sudah datang di acara kecil ini,” lanjutnya santai. “Acara ulang tahun orang yang… ya, lumayan penting lah.”Beberapa orang tertawa kecil.Dirga yang berdiri di samping Nadine hanya menggeleng sambil tersenyum.“Jadi malam ini kita santai aja,” lanjut Gio. “Makan, ngobrol, dan—kalau ada yang mau nyumbang suara, sangat dipersilahkan! Tapi ingat, suaranya wajib bagus. Khawatir kalau suaranya gak enak, Pak Dirga jadi tekor karena bawa kalian ke THT.”Suasana langsung mencair. Tawa mulai terdeng
Read more