"B-bu Niken?!" teriakku dengan suara gagap.Bu Niken yang tadinya membatu langsung membalik tubuhnya. "Maaf, saya tidak melihat apa-apa."Aku dan Pak Jefri saling pandang sejenak, dan aku mengangkat badan untuk turun. Namun, Pak Jefri justru menarik tengkukku, lalu mengecup bibirku lagi."Ih, Bapak!" protesku sambil memukul lengannya ringan.Ia hanya tersenyum, dan kami sama-sama bangkit—duduk di sofa."Niken," panggil Pak Jefri dengan suara datar.Bu Niken membalikkan badannya. Ia melirikku sebentar sebelum akhirnya menatap Pak Jefri dengan wajah kakunya. "Maaf, Pak. Kalau kalian ingin melanjutkan, saya bisa kembali nanti.""T-tidak!" teriakku dengan mata melotot sambil melambaikan kedua tangan.Suasana seketika hening. Bu Niken menatapku dengan ujung alis terangkat. Aku menoleh pada Pak Jefri, dan dia pun menatapku dengan wajah datar cenderung dingin.Aku tertawa garing karena merasa malu pada diriku sendiri. "M-maaf. Sebaiknya... saya keluar dulu."Aku mengangkat bokong untuk bangk
Last Updated : 2025-12-08 Read more