Aini membuka pintu dengan senyum yang tenang ketika melihat Danu dan Yoga datang. Senyum itu bukan hanya sekedar sapaan, melainkan sebuah simbol perubahan yang telah terjadi di antara mereka. Tidak ada lagi tatapan dingin seperti dulu; sebaliknya, wajah Aini tampak lebih lembut, mencerminkan kedamaian yang baru ditemukan dalam hatinya.“Masuklah,” kata Aini pelan, suaranya lembut dan hangat. “Anak-anak lagi bangun. Dari tadi rewel, mungkin kangen ayahnya.” Danu sedikit terdiam, merasakan kehangatan sambutan Aini yang tak terduga. Ia tidak menyangka bahwa kedatangannya di sambut ramah, seolah semua luka lama perlahan mulai sembuh.“Terima kasih, bunda,” ucap Danu, agak canggung, tetapi ada rasa syukur yang mendalam dalam suaranya. Yoga yang berdiri di samping Danu ikut tersenyum, merasakan atmosfer yang lebih cerah. “Sepertinya es mulai mencair,” ucapnya pelan.Aini lalu mempersilakan mereka masuk ke ruang tengah. Di sana, tiga bayi duduk di kursi bayi yang berjajar rapi, tampak lucu
Baca selengkapnya