Siang hari itu matahari bersinar cukup terik, tetapi angin yang berembus di halaman rumah baru Dina di Mekar Jaya membuat suasana terasa nyaman. Rumah yang berdiri di belakang ruko itu masih terlihat baru, dengan cat dindingnya bersih, halaman masih sepi dari banyak tanaman, dan beberapa kardus masih tersusun di sudut teras.Amar, paman Dina, duduk di kursi kayu di samping rumah. Ia memandang sekeliling rumah itu sebentar, lalu menoleh ke arah Danu yang duduk di depannya. Wajah Amar terlihat serius, tetapi tidak menunjukkan kemarahan. Dia sepertinya sudah mulai menerima kehadiran Danu.“Danu,” kata Amar membuka pembicaraan. “Iya, Paman.”Amar menatapnya beberapa detik, lalu berkata pelan, “Paman dengar kamu sekarang pakai nama baru.”“Iya, Paman,” jawabnya jujur.Amar mengangkat alis sedikit. “Kenapa?”Pertanyaan itu sederhana, tetapi terasa berat.Danu menghela napas panjang sebelum menjawab.“Saya… ingin melupakan masa lalu, Paman,” katanya pelan. “Masa lalu yang penuh kesalahan.”
Terakhir Diperbarui : 2026-02-19 Baca selengkapnya