Ruang tunggu kantor polisi itu terasa pengap, meski pendingin udara menyala. Halimah duduk di ujung bangku panjang, tubuhnya condong ke depan, kedua tangannya saling meremas. Matanya tak lepas dari pintu besi berwarna abu-abu yang sejak tadi tertutup rapat.Sudah hampir satu jam.Ia menghela napas berat, lalu berdiri lagi. Mondar-mandir dua langkah, berhenti, lalu kembali duduk. Begitu seterusnya.“Ya Allah… lama sekali,” gumamnya, suaranya bergetar.Hasna, yang duduk di sampingnya, memperhatikan gerak-gerik kakaknya dengan cemas. Sejak berangkat dari rumah, ia tahu betul Halimah sedang menahan badai perasaan, antara marah, takut, malu, dan rindu pada anaknya sendiri yang sedang tersandung masalah.“Sabar, kak,” ucap Hasna lembut sambil menyentuh lengan Halimah. “Di sini semua ada aturannya.”Halimah menoleh cepat. “Bagaimana aku bisa sabar, Na? Itu anakku. Dia sendirian di dalam. Hamil pula.”Hasna mengangguk pelan. “Aku tahu. Tapi kita di kantor polisi. Emosi tidak akan mempercepat
Terakhir Diperbarui : 2026-02-08 Baca selengkapnya