Share

Bab 172 Musibah

Author: Lin shi
last update Last Updated: 2026-02-25 21:21:23

Sinta berdiri terpaku di depan puing-puing rumah yang dulu pernah ia datangi dengan penuh harapan. Kini, yang tersisa hanya tanah hitam, beberapa potongan kayu hangus, dan bau sisa kebakaran yang masih samar-samar tercium di udara.

Wajahnya pucat, napasnya terasa berat. Rica yang berdiri di sampingnya menatap sekeliling dengan kening berkerut.

“Ini… benar rumahnya?” tanya Rica pelan, masih tidak percaya dengan apa yang ada dihadapannya.

Sinta mengangguk lemah. “Iya… aku ingat betul jalan ini.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kehidupan Setelah Perpisahan    Bab 172 Musibah

    Sinta berdiri terpaku di depan puing-puing rumah yang dulu pernah ia datangi dengan penuh harapan. Kini, yang tersisa hanya tanah hitam, beberapa potongan kayu hangus, dan bau sisa kebakaran yang masih samar-samar tercium di udara. Wajahnya pucat, napasnya terasa berat. Rica yang berdiri di sampingnya menatap sekeliling dengan kening berkerut.“Ini… benar rumahnya?” tanya Rica pelan, masih tidak percaya dengan apa yang ada dihadapannya.Sinta mengangguk lemah. “Iya… aku ingat betul jalan ini. Pohon mangga di depan itu juga masih ada.” Ia menunjuk pohon yang berdiri tak jauh dari sana. “Rumahnya dulu di situ.”Rica menghela napas panjang. “Astaga… jadi benar yang tadi dibilang orang itu. Sudah habis terbakar.”Sinta menggigit bibirnya. Tubuhnya terasa semakin tidak nyaman. Bau yang selama beberapa hari ini menghantuinya seolah semakin kuat, membuatnya sendiri mual. Ia mencoba menyemprotkan parfum kecil dari tasnya, lalu menyemprotkan ke leher dan tangannya.Rica spontan menutup hidung

  • Kehidupan Setelah Perpisahan    Bab 171 Hukuman

    Sudah tiga hari berlalu sejak ditemukannya bungkusan mencurigakan di dekat pohon mawar. Sejak kejadian itu, Endang tidak bisa benar-benar tenang. Setiap pagi, setiap siang, bahkan kadang sore hari, ia selalu menanyakan hal yang sama kepada asisten rumah tangganya.Pagi itu, Endang keluar dari kamar sambil merapikan kerudungnya. Di dapur, Bik Iyem sedang memotong bawang.“Bibik…” panggil Endang.“Iya, Bu?” jawab Bik Iyem sambil menoleh.Endang mendekat sedikit.“Bibik, ada lihat benda aneh lagi di halaman?”Bik Iyem langsung menggeleng.“Tidak ada, Bu. Saya sudah cek tadi pagi.”Endang menghela napas, tapi wajahnya masih terlihat khawatir.“Sudah lihat ke dekat pohon mangga?”“Sudah, Bu. Bahkan saya keliling sampai ke pagar belakang juga.”Endang masih belum puas.“Di sudut-sudut taman?”“Sudah juga, Bu.”Endang akhirnya duduk di kursi dekat meja makan.“Bibik yakin tidak ada apa-apa lagi?”“Iya, Bu. Aman.”Endang mengangguk pelan, meski pikirannya masih penuh dengan kejadian beberapa

  • Kehidupan Setelah Perpisahan    Bab 170 Bersumpah

    Suasana rumah sore itu sedikit tegang. Dinda duduk di ruang tamu bersama Endang dan Danu. Wajah Dinda masih terlihat kesal sejak percakapan teleponnya dengan Rizal tadi siang.Tok… tok… tok…Endang berdiri, karena keduanya Danu dan Dinda masih sibuk dengan pikirannya masing-masing.Endang berjalan ke pintu dan membukanya. Begitu pintu terbuka, terlihat Rizal berdiri di depan rumah dengan wajah serius namun tetap sopan.“Assalamualaikum, Tante,” ucap Rizal.Endang sedikit terkejut, tetapi tetap menjawab.“Waalaikumsalam.”Mendengar suara Rizal, Danu langsung berdiri. Ekspresinya tidak terlalu ramah.“Ngapain kamu ke sini?” tanya Danu tanpa basa-basi.Rizal menarik napas dalam-dalam.“Saya mau meluruskan sesuatu.”Dinda yang mendengar suara itu langsung menoleh. Begitu melihat Rizal, wajahnya kembali menegang.“Ngapain datang?” tanya Dinda dingin.Rizal melangkah masuk setelah Endang mempersilakan.“Masuk dulu,” kata Endang.Rizal masuk dan berdiri di tengah ruang tamu. Ia tidak langsun

  • Kehidupan Setelah Perpisahan    Bab 169 Kembali ke Diri Sendiri

    Sore itu, suasana di rumah Endang terasa lebih sunyi dari biasanya. Angin sore yang lembut seakan enggan masuk ke dalam, membuat setiap sudut rumah tampak lebih kelam. Endang masih terperangkap dalam pikirannya, mengingat bungkusan aneh yang ditemukan oleh Bik Iyem di bawah pohon mawar. Walaupun bungkusan itu sudah dibakar hingga hangus, rasa tidak nyaman dan ketidakpastian masih menyelimuti hatinya, seperti bayangan yang tak kunjung pergi.Dinda, yang baru pulang dari sesi terapi, duduk di ruang tengah sambil memijat pelan kakinya yang masih terasa nyeri akibat latihan fisik yang berat. Ketika Endang datang membawa segelas air hangat, Dinda mengangkat wajahnya, menyambut kedatangan ibunya dengan senyuman lemah. “Nih, minum dulu,” kata Endang sambil menyerahkan gelas itu dengan penuh perhatian.“Terima kasih, Ma,” jawab Dinda, meneguk air hangat itu dengan pelan, berharap dapat meredakan rasa sakit di kakinya.Endang duduk di sampingnya, wajahnya terlihat serius dan penuh beban. “Di

  • Kehidupan Setelah Perpisahan    Bab 168 Guna-guna

    Di tempat usaha doorsmeer milik Danu, suasana siang itu cukup ramai. Beberapa motor dan mobil sedang dicuci oleh karyawan. Air menyembur dari selang, dan suara mesin kompresor terdengar bersahut-sahutan. Danu berdiri di dekat meja kasir, karena Dinda tidak masuk. Tak lama kemudian, sebuah motor berhenti di depan pintu masuk. Yoga turun dari motornya dan berjalan cepat menghampiri Danu. Wajahnya terlihat serius.“Dan,” panggil Yoga.Danu menoleh. “Eh, Yo. Tumben siang-siang datang. Ada apa?”Yoga tidak langsung menjawab. Ia menarik kursi plastik dan duduk di depan Danu. “Ada yang mau aku omongin.”Danu langsung memperhatikan wajah sahabatnya itu. “Kenapa? Wajahmu kayak orang habis lihat hantu.”Yoga menghela napas pelan. “Tadi… Sinta datang ke kantor.”Danu langsung terdiam beberapa detik. “Sinta?” ulang Danu.“Iya,” jawab Yoga. “Dia nanyain kamu.”Danu mengerutkan kening. “Ngapain dia nyari aku ke kantor?”Yoga menggeleng. “Itu dia. Makanya aku datang ke sini. Feeling aku nggak enak,

  • Kehidupan Setelah Perpisahan    Bab 167 Pendekatan

    Tangis Alya terdengar tiba-tiba memecah suasana sore di rumah baru Dina. Bayi kecil itu terbangun dari tidurnya dan langsung menangis keras. Dina yang sedang duduk merapikan baju-baju ke dalam tas dekat kasur tempat ketiga bayinya berbaring segera mengangkat Alya.“Sayang… kenapa, Nak?” Dina mengayun pelan tubuh putrinya.Namun Alya tetap menangis. Bahkan semakin keras. Wajah kecilnya memerah, tangan mungilnya bergerak gelisah.Aini yang berada di dekat dapur segera datang.“Coba bunda gendong,” kata Aini sambil mengambil Alya dari tangan Dina.Alya digendong oleh neneknya. Aini menepuk-nepuk punggung bayi itu perlahan.“Cucu bunda kenapa? Kaget ya, bangun di tempat asing?”Namun tangis itu belum juga berhenti. Dan, tangisan Alya berhasil membuat kedua saudaranya terbangun, namun tidak membuat keduanya menangis.Dinda yang duduk dengan kaki masih sedikit pincang ikut mendekat.“Sini kak, coba aku gendong.”Alya berpindah tangan lagi. Dinda berusaha menghiburnya dengan suara lembut.“

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status