Home / Rumah Tangga / Kehidupan Setelah Perpisahan / Bab 174 Lima tahun kemudian

Share

Bab 174 Lima tahun kemudian

Author: Lin shi
last update Last Updated: 2026-02-27 22:06:09

Lima Tahun Kemudian

Malam itu, suasana rumah terasa tenang. Anak-anak sudah tidur, dan hanya suara kipas angin yang terdengar pelan di ruang tengah. Dina sedang merapikan pakaian si kembar, ketika bundanya datang membawa dua cangkir teh hangat.

Aini meletakkan cangkir itu di meja kecil. “Nih, minum dulu. Dari tadi kamu menjahit terus,” kata Aini.

Dina tersenyum tipis. “Terima kasih, bunda.” Aini duduk di kursi di depan Dina. Ia memperhatikan putrinya cukup lama, seolah sedang memikirkan sesuat
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kehidupan Setelah Perpisahan    Bab 175 Berjuang

    Malam itu kamar terasa lebih sunyi dari biasanya. Lampu tidur menyala redup. Rizal yang sejak tadi memperhatikan wajah istrinya akhirnya tidak tahan untuk bertanya lagi.“Yang, ada apa?” tanya Rizal pelan saat mereka sudah berbaring di atas ranjang.Dinda memunggungi suaminya. “Tidak ada apa-apa, Mas.”Rizal menghela napas. Ia sudah hafal betul nada suara istrinya itu.“Jangan tutupin dari Mas. Pasti ada yang kamu pikirkan, Yang.”Dinda diam.Rizal lalu sedikit mendekat. Tangannya menyentuh bahu Dinda dengan lembut.“Apa Mama ada mengatakan sesuatu? Atau Nenek?”Dinda cepat menggeleng, walau Rizal tidak bisa melihat wajahnya.“Nggak ada, Mas. Ayo tidur. Besok Mas akan keluar kota, kan?”Namun Rizal justru semakin yakin ada yang tidak beres.“Justru karena besok Mas pergi, Mas nggak mau pergi meninggalkan kamu seperti ini”Dinda menarik napas pelan.“Yang… lihat Mas,” kata Rizal.Akhirnya Dinda berbalik. Matanya terlihat sedikit berkaca-kaca.Rizal langsung duduk bersandar di kepala ra

  • Kehidupan Setelah Perpisahan    Bab 174 Lima tahun kemudian

    Lima Tahun KemudianMalam itu, suasana rumah terasa tenang. Anak-anak sudah tidur, dan hanya suara kipas angin yang terdengar pelan di ruang tengah. Dina sedang merapikan pakaian si kembar, ketika bundanya datang membawa dua cangkir teh hangat.Aini meletakkan cangkir itu di meja kecil. “Nih, minum dulu. Dari tadi kamu menjahit terus,” kata Aini. Dina tersenyum tipis. “Terima kasih, bunda.” Aini duduk di kursi di depan Dina. Ia memperhatikan putrinya cukup lama, seolah sedang memikirkan sesuatu.Dina yang merasa diperhatikan akhirnya bertanya, “Kenapa bunda lihat aku begitu?” Aini menghela napas kecil. “Bunda mau tanya sesuatu sama kamu.” “Apa?” “Kamu dekat ya sama pemilik pabrik mebel itu… siapa namanya… Iwan Setiawan?” Dina langsung berhenti melipat kain. Wajahnya terlihat bingung. “Pak Iwan?” tanyanya memastikan.“Iya, dia.” Dina mengernyitkan dahi. “Kenapa bunda tanya?” Aini menyandarkan punggungnya ke kursi. “Bunda curiga dia tertarik sama kamu.” Mata Dina langsung membes

  • Kehidupan Setelah Perpisahan    Bab 173 Ingin kembali

    Aini membuka pintu dengan senyum yang tenang ketika melihat Danu dan Yoga datang. Senyum itu bukan hanya sekedar sapaan, melainkan sebuah simbol perubahan yang telah terjadi di antara mereka. Tidak ada lagi tatapan dingin seperti dulu; sebaliknya, wajah Aini tampak lebih lembut, mencerminkan kedamaian yang baru ditemukan dalam hatinya.“Masuklah,” kata Aini pelan, suaranya lembut dan hangat. “Anak-anak lagi bangun. Dari tadi rewel, mungkin kangen ayahnya.” Danu sedikit terdiam, merasakan kehangatan sambutan Aini yang tak terduga. Ia tidak menyangka bahwa kedatangannya di sambut ramah, seolah semua luka lama perlahan mulai sembuh.“Terima kasih, bunda,” ucap Danu, agak canggung, tetapi ada rasa syukur yang mendalam dalam suaranya. Yoga yang berdiri di samping Danu ikut tersenyum, merasakan atmosfer yang lebih cerah. “Sepertinya es mulai mencair,” ucapnya pelan.Aini lalu mempersilakan mereka masuk ke ruang tengah. Di sana, tiga bayi duduk di kursi bayi yang berjajar rapi, tampak lucu

  • Kehidupan Setelah Perpisahan    Bab 172 Musibah

    Sinta berdiri terpaku di depan puing-puing rumah yang dulu pernah ia datangi dengan penuh harapan. Kini, yang tersisa hanya tanah hitam, beberapa potongan kayu hangus, dan bau sisa kebakaran yang masih samar-samar tercium di udara. Wajahnya pucat, napasnya terasa berat. Rica yang berdiri di sampingnya menatap sekeliling dengan kening berkerut.“Ini… benar rumahnya?” tanya Rica pelan, masih tidak percaya dengan apa yang ada dihadapannya.Sinta mengangguk lemah. “Iya… aku ingat betul jalan ini. Pohon mangga di depan itu juga masih ada.” Ia menunjuk pohon yang berdiri tak jauh dari sana. “Rumahnya dulu di situ.”Rica menghela napas panjang. “Astaga… jadi benar yang tadi dibilang orang itu. Sudah habis terbakar.”Sinta menggigit bibirnya. Tubuhnya terasa semakin tidak nyaman. Bau yang selama beberapa hari ini menghantuinya seolah semakin kuat, membuatnya sendiri mual. Ia mencoba menyemprotkan parfum kecil dari tasnya, lalu menyemprotkan ke leher dan tangannya.Rica spontan menutup hidung

  • Kehidupan Setelah Perpisahan    Bab 171 Hukuman

    Sudah tiga hari berlalu sejak ditemukannya bungkusan mencurigakan di dekat pohon mawar. Sejak kejadian itu, Endang tidak bisa benar-benar tenang. Setiap pagi, setiap siang, bahkan kadang sore hari, ia selalu menanyakan hal yang sama kepada asisten rumah tangganya.Pagi itu, Endang keluar dari kamar sambil merapikan kerudungnya. Di dapur, Bik Iyem sedang memotong bawang.“Bibik…” panggil Endang.“Iya, Bu?” jawab Bik Iyem sambil menoleh.Endang mendekat sedikit.“Bibik, ada lihat benda aneh lagi di halaman?”Bik Iyem langsung menggeleng.“Tidak ada, Bu. Saya sudah cek tadi pagi.”Endang menghela napas, tapi wajahnya masih terlihat khawatir.“Sudah lihat ke dekat pohon mangga?”“Sudah, Bu. Bahkan saya keliling sampai ke pagar belakang juga.”Endang masih belum puas.“Di sudut-sudut taman?”“Sudah juga, Bu.”Endang akhirnya duduk di kursi dekat meja makan.“Bibik yakin tidak ada apa-apa lagi?”“Iya, Bu. Aman.”Endang mengangguk pelan, meski pikirannya masih penuh dengan kejadian beberapa

  • Kehidupan Setelah Perpisahan    Bab 170 Bersumpah

    Suasana rumah sore itu sedikit tegang. Dinda duduk di ruang tamu bersama Endang dan Danu. Wajah Dinda masih terlihat kesal sejak percakapan teleponnya dengan Rizal tadi siang.Tok… tok… tok…Endang berdiri, karena keduanya Danu dan Dinda masih sibuk dengan pikirannya masing-masing.Endang berjalan ke pintu dan membukanya. Begitu pintu terbuka, terlihat Rizal berdiri di depan rumah dengan wajah serius namun tetap sopan.“Assalamualaikum, Tante,” ucap Rizal.Endang sedikit terkejut, tetapi tetap menjawab.“Waalaikumsalam.”Mendengar suara Rizal, Danu langsung berdiri. Ekspresinya tidak terlalu ramah.“Ngapain kamu ke sini?” tanya Danu tanpa basa-basi.Rizal menarik napas dalam-dalam.“Saya mau meluruskan sesuatu.”Dinda yang mendengar suara itu langsung menoleh. Begitu melihat Rizal, wajahnya kembali menegang.“Ngapain datang?” tanya Dinda dingin.Rizal melangkah masuk setelah Endang mempersilakan.“Masuk dulu,” kata Endang.Rizal masuk dan berdiri di tengah ruang tamu. Ia tidak langsun

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status