Di depan pintu ruangan Fajar, Lily menarik napas panjang dan menenangkan dirinya sejenak. Ia mengetuk pintu dengan hati-hati. Dari dalam, terdengar suara Fajar yang tenang namun tegas, “Masuk.”Lily membuka pintu dan masuk, segera mulai menyapu lantai dan membereskan meja dengan terburu-buru. Fajar, yang duduk di kursinya, tetap fokus mengetik di laptop tanpa menoleh ke arah Lily. Suaranya terdengar dingin namun tegas, “Kalau kerja jangan asal-asalan, nanti tidak bersih. Saya paling tidak suka ruangan kotor.”Lily menunduk, menelan gugup, dan menjawab lirih, “Baik, Pak.” Dalam hati, ia bergumam, “Aduh, sumpah canggung banget…”Secara refleks, Lily sempat melirik ke arah Fajar. Matanya bertemu dengan tatapan Fajar, tajam namun tidak menakutkan, hanya penuh perhatian. Lily buru-buru membuang pandangannya, merasakan pipinya memanas.Tiba-tiba, Fajar berkata dengan suara tenang tapi jelas terdengar, “Bersikaplah seperti biasanya. Saya tadi hanya berakting, tidak lebih. Saya tahu kamu suda
Dernière mise à jour : 2025-09-08 Read More