Darian melepaskan ciumannya sebentar, matanya yang merah menatap lapar ke arah dua gundukan kenyal istrinya yang naik-turun karena napas yang memburu. "Kau sangat cantik, Sayang... kau adalah penawarku," bisik Darian sebelum ia membenamkan wajahnya di dada Amara, menghisap puncaknya dengan sangat kuat. "Ahh! Mas... pelan... akh, itu nikmat..." rintih Amara, kepalanya terdongak ke belakang, jemarinya meremas rambut hitam Darian. Ia merasakan sensasi geli dan panas yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya. Darian tidak memedulikan permohonan pelannya. Ia segera melepaskan sisa pakaiannya sendiri, memperlihatkan kejantanannya yang sudah tegang maksimal, besar, panjang, dan berurat. Amara menelan ludah, matanya membelalak melihat ukuran suaminya yang tampak jauh lebih mengancam malam ini akibat pengaruh zat kimia tersebut. "Mas... itu... apakah aku sanggup?" bisik Amara gemetar. "Kau harus sanggup, Sayang. Karena aku akan memenuhinya sampai kau menjerit, menyebut namaku
Last Updated : 2026-01-11 Read more