“Papa kira kamu lahir malam ini, Nak,” bisik Radja pelan pada perut besar istrinya. Telapak tangannya mengusap lembut kulit perut Djiwa yang masih terasa mengeras sisa kontraksi tadi. “Ternyata cuma kontraksi palsu.” Djiwa tersenyum kecil, lelah tapi lega. “Iya, kata dokter itu latihan sebelum yang sesungguhnya, Mas. Persiapan tubuh. Semoga aja minggu depan, ya.” Radja mengangguk mantap. Ia memejamkan mata sesaat, lalu merangkul Djiwa dari samping—tidak erat, sekadar memastikan istrinya ada dalam dekapan dan aman. “Saya benar-benar tidak sabar mereka lahir,” gumamnya berat, nyaris seperti doa. “Iya, pasti lahir,” jawab Djiwa pelan. “Tapi yang paling deg-degan itu Djiwa, Mas. Ini pertama kalinya hamil, pertama kalinya ngerasain semua proses ini.” Ia menghela napas panjang, menatap langit-langit kamar. “Takut salah napas, takut sakitnya, takut kalau ada apa-apa. Djiwa cuma berharap semuanya lanca
Read more