Radja mengangkat wajahnya—dan mata mereka bertemu. Dingin, dalam, dan mengerikan sekaligus memabukkan. “Ke mana Kaisar?” tanya pria itu lagi. Djiwa menyeret ludahnya susah payah, menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Mas Kai ... dia buru-buru, Pak. Jadi dia minta saya buat naik taksi. Cuma, kalau taksi kelamaan sampainya. Jadi saya pilih naik ojek online aja,” jawab wanita itu pelan, tetap tersenyum. Entahlah. Rasanya Radja tak suka dengan jawaban itu. Harusnya Djiwa mengadukan sang suami padanya, selaku kakak tertua, agar bisa memberikan pelajaran. Misal, Djiwa curhat atau mengadu supaya sang suami mendapatkan teguran dari kakaknya. Atau marahan dari kakaknya. Tapi ini tidak. Tanpa bicara lagi, Radja kembali fokus pada lutut Djiwa. Ia meraih botol antiseptik, membuka tutupnya dengan satu tangan, lalu menuangkan cairannya ke atas kain kasa. Gerakannya tenang, terlalu tenang. Kain kasa itu kemudian menempel pada kulit Djiwa. “Ah—” Djiwa refleks meringis kecil, tubuhnya tersent
Terakhir Diperbarui : 2025-12-04 Baca selengkapnya