Ervan sempat tertegun sejenak ketika mendengar pertanyaan Kompol Hendra. Namun, sebagai seorang manipulator ulung, ia segera mengatur raut wajahnya. Ia menarik napas pendek, lalu menunjukkan senyum tipis yang tampak sangat lelah, sebuah topeng kesedihan yang dipaksakan."Pak Komandan, saya ini seorang ahli bedah," jawab Ervan dengan nada tenang, berusaha mengembalikan otoritasnya. "Kebersihan adalah insting dasar saya. Saya baru saja sampai di sini dan melihat kekacauan ini. Saya tidak sempat menyentuh apa pun karena saya syok. Jika baju saya bersih, itu karena saya memang baru masuk dan langsung diserang oleh mereka."Kompol Hendra tidak langsung menjawab. Ia melangkah mendekati Ervan, cukup dekat hingga ia bisa mencium aroma yang menguar dari tubuh sang dokter. Bukan aroma parfum mahal yang tadi disemprotkan Ervan, melainkan aroma tajam dari sisa-sisa cairan pembersih lantai yang masih menempel di pori-pori kulit dan ujung kemejanya."Baunya sangat menyengat, Dokter," gumam Hendra p
Read more