Di bawah sana, di area parkir hotel yang luas, suasana berubah menjadi kekacauan total. Tamu-tamu hotel berlarian keluar dengan pakaian seadanya. Suara sirine polisi dan ambulans bersahut-sahutan.Danu, yang duduk di dalam mobil minibusnya dengan kaca gelap, menatap ke atas. Di lantai dua belas, cahaya oranye kemerahan berkobar terang, memecah kegelapan malam Jakarta. Ia bisa melihat bayangan petugas polisi yang bergelantungan di tali, berusaha masuk kembali ke dalam gedung yang kini mulai mengeluarkan asap dari sela-sela jendela.Danu mengepalkan tangannya di atas kemudi hingga buku jarinya memutih. Wajahnya dipenuhi kecemasan yang mendalam. Bukan karena ia peduli pada nyawa orang-orang di atas sana, tapi karena ia tahu jika Ervan tertangkap atau mati di sana, semua jejak bisnis organ ilegal mereka akan ikut terbakar atau justru terungkap dengan cara yang paling buruk."Sudah aku bilang, Van ... jangan pikirkan balas dendam dulu. Kabur lebih penting," gumam Danu dengan suara bergeta
Read more