Rina berbalik perlahan, jemarinya yang gemetar masih menggenggam kunci pagar besi yang dingin. Ia menatap wajah Fahmi, pria itu tampak sangat kusam, bayangan hitam di bawah matanya menceritakan betapa beratnya beban yang ia pikul beberapa jam terakhir. Namun, di balik kelelahan yang nyata itu, matanya masih menatap Rina dengan binar pelindung yang sama, sebuah ketulusan yang tidak pernah berubah sejak pertama kali mereka bertemu."Aku hanya butuh waktu untuk berpikir, Mi. Semuanya terjadi begitu cepat, seolah-olah semesta sedang menghakimiku tanpa ampun. Kematian Claudia yang tragis, penangkapan Ervan yang terasa seperti mimpi buruk ... dan kenyataan bahwa kita ternyata … saudara tiri …Sampai jumpa lagi ya, Mi. Kamu juga harus istirahat. Jangan sampai kamu tumbang setelah semua perjuangan ini," ujar Rina sambil mencoba memutar kunci pagar, berusaha mengakhiri pertemuan itu sebelum hatinya semakin goyah.Namun, sebelum Rina sempat melangkah masuk ke halaman rumahnya, tangan Fahmi ber
Read more