Rumah Sakit Mega Hospital berdiri seperti benteng putih yang dingin di tengah kegelapan Roma. Pukul dua belas malam, lorong-lorongnya diselimuti kesunyian yang mencekam, kecuali di sayap VIP lantai paling atas. Di sana, aroma antiseptik bercampur dengan ketegangan yang bisa dirasakan di udara. Puluhan bodyguard berbaju hitam berdiri siaga, menjaga sebuah pintu yang di baliknya terbaring sang penguasa Roma yang terluka, Michele Lazaro Riciteli.Michele telah melewati gerbang kematian. Pendarahan otak yang nyaris merenggut nyawanya berhasil ditangani melalui operasi maraton selama delapan jam. Selama dua hari, ia sempat dinyatakan mati otak—sebuah kondisi yang membuat klan Riciteli nyaris runtuh. Namun, keajaiban atau mungkin kutukan, membawa Michele kembali.Sebagai penderita Congenital Insensitivity to Pain (CIP), Michele tidak bisa merasakan rasa sakit dari jahitan di kepalanya atau lebam di sekujur tubuhnya. Baginya, luka hanyalah data visual. Namun, tubuhnya tetaplah daging dan
Terakhir Diperbarui : 2026-01-17 Baca selengkapnya