MasukRoma biasanya terlihat megah di bawah sinar rembulan, namun bagi George Riciteli, keindahan itu terasa seperti sarkofagus marmer yang dingin. Di bawah permukaan tanah Distrik Trastevere, di sebuah fasilitas medis rahasia yang dulunya dikembangkan oleh mendiang pamannya, Carlo, teknologi paling mutakhir di Eropa sedang bekerja untuk menyelamatkan sebuah jiwa yang nyaris hilang.Di balik dinding kaca plexiglass setebal sepuluh inci yang diperkuat dengan serat karbon, Bella Austin Castaro terbaring di atas meja operasi magnetik. Tubuhnya tidak lagi diikat dengan rantai kasar, melainkan dipasangi sensor-sensor halus yang memantau setiap denyut nadi dan lonjakan aktivitas otaknya. Cairan penstabil berwarna ungu pucat mengalir ke dalam tubuhnya, berusaha meredam agresivitas virus Chimera yang masih mencoba merebut kendali.George berdiri di depan kaca itu, tangannya bertumpu pada bingkai logam yang dingin. Ia belum mengganti pakaiannya sejak dari kapal kargo; kemeja hitamnya masih menyis
Gelombang laut Mediterania menghantam lambung kapal baja itu dengan amarah yang seolah mencerminkan kekacauan di dalamnya. Di atas dek, hujan badai mengguyur tanpa ampun, menyamarkan suara mesin kapal yang menderu kencang menuju pelabuhan rahasia di Napoli.Namun, ketegangan yang sesungguhnya berada jauh di dalam perut kapal, di Sektor Medis Darurat yang telah dijaga ketat oleh pasukan AXIS.George Riciteli berdiri di depan dinding kaca tebal yang memisahkan ruang kendali dengan ruang isolasi tempat Bella dikurung. Di dalam sana, Bella tidak lagi pingsan. Efek obat bius dosis tinggi yang seharusnya mampu menjatuhkan seekor beruang kutub ternyata hanya bertahan selama beberapa jam di dalam sistem metabolisme Bella yang telah dimodifikasi secara genetika.Bella kini berdiri di sudut ruangan, tubuhnya gemetar bukan karena kedinginan, melainkan karena energi murni yang meluap dari jaringan ototnya. Matanya yang emas kemerahan berpendar di keremangan lampu darurat merah yang berputar."Ti
Hutan Amsterdam – Tengah Malam.Hutan yang membatasi laboratorium Sektor Omega bukanlah hutan biasa; itu adalah hamparan vegetasi purba yang begitu lebat hingga cahaya bulan pun sulit menembus kanopinya. Di bawah bayang-bayang pepohonan raksasa yang tampak seperti raksasa diam, suasana terasa begitu purba dan mengancam. Suara geraman predator alami—harimau yang mengintai di balik semak, singa yang berpatroli di wilayahnya, hingga desis ular sanca yang melilit dahan—berpadu menjadi simfoni maut yang mencekam.George Riciteli berdiri mematung di pinggiran hutan, matanya menatap tajam ke dalam kegelapan hijau yang pekat. Angin dingin Amsterdam menyapu wajahnya, membawa aroma tanah basah dan sisa bau mesiu dari laboratorium yang masih terbakar di belakangnya. Luca menghampirinya, membawa sebotol air mineral yang segera ia sodorkan kepada tuannya."George, minumlah sedikit. Pasukan AXIS sudah menyebar, menyisir radius lima kilometer. Sebaiknya kau menunggu di mobil, luka operasi mu bisa
Laboratorium Sektor Omega, Amsterdam – Tengah Malam.Udara di dalam fasilitas bawah tanah itu mendadak berubah menjadi logam dan anyir. Suara ledakan pintu baja yang dihancurkan oleh pasukan Riciteli bergema, disusul dengan rentetan tembakan otomatis yang menerangi koridor-koridor gelap dan dingin. "Bereskan sisanya! Yang lain ikut aku!"Luca memimpin di barisan depan dengan efisiensi mematikan, menumbangkan tim keamanan laboratorium satu per satu. Namun, semakin jauh mereka masuk ke dalam jantung penelitian, suasana semakin mencekam. Bukan lagi tentara yang mereka hadapi, melainkan keheningan yang menyesakkan dan bau bahan kimia yang memuakkan."Dante! Bedebah! Keluar kau!"George Riciteli melangkah di tengah kekacauan itu dengan mata yang menyala oleh api dendam yang sudah tertanam selama dua dekade. Di sebuah ruangan luas yang dipenuhi tabung-tabung eksperimen, ia akhirnya menemukan sosok yang ia cari. Dante Castanyo berdiri dengan tenang di balkon pengawas, tersenyum lebar seo
Bau antiseptik yang tajam menusuk udara di koridor rumah sakit saat lampu merah di atas pintu ruang operasi masih menyala terang. Di luar, Jose Crafson dan putranya, Zordan, berdiri dengan wajah tegang. Sebagai petinggi kepolisian, Jose telah melihat banyak luka tembak, namun melihat keponakannya sendiri terkapar dengan lubang di dada tanpa ekspresi kesakitan adalah sesuatu yang menghancurkan jiwanya."Dia tidak berteriak, Ayah," bisik Zordan dengan nada tak percaya. "Bahkan saat peluru itu menembus dadanya, dia menatap para penyerang itu seolah-olah mereka hanya serangga. George benar-benar sudah menjadi manusia tanpa rasa."Di dalam ruang operasi, para ahli bedah bekerja dalam tekanan tinggi. George Riciteli terbaring di atas meja logam, detak jantungnya melemah di layar monitor. Peluru itu nyaris menghancurkan aorta. Namun, di tengah ketidaksadarannya, George tidak memimpikan kedamaian. Ia memimpikan api. Ia memimpikan Bella yang memanggil namanya dari balik jeruji besi yang dipe
Cairan neon berwarna biru pucat mengalir pelan melalui selang transparan yang terhubung ke pembuluh darah Bella. Di dalam sel tahanan khusus subjek terpilih, Bella meringkuk di atas ubin dingin yang lembap. Tubuhnya menggigil hebat, namun keringat dingin membasahi seluruh permukaan kulitnya. Jantungnya berdegup dengan irama yang tak beraturan, seolah-olah ada makhluk asing yang mencoba mendobrak keluar dari dalam dadanya. Virus awal dari Proyek Chimera sedang bekerja, memetakan ulang jaringan saraf dan struktur molekulernya sedikit demi sedikit.Elena menempelkan wajahnya pada jeruji sel yang bersebelahan, air matanya jatuh membasahi lantai beton. "Bella... bertahanlah. Kumohon, jangan menyerah pada virus itu," bisik Elena parau, jiwanya hancur melihat sahabatnya yang biasanya tegar kini mengerang dalam kesakitan yang tak manusiawi.Di ruang rapat kaca yang menghadap langsung ke deretan sel, Dante Castanyo berdiri dengan tangan bersedekap. Di hadapannya, empat dokter spesialis genet
"Mr. Agust Hernandez."Georgino mengeja nama itu dengan nada mengejek, matanya memicing menatap papan nama plastik yang tergantung di ujung ranjang rumah sakit. Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada pria yang terbaring kaku di bawah selimut putih bersih. Pria itu mengenakan setelan rumah sakit
"George!"Suara Meghan pecah, terserap oleh sunyinya hutan di sekitar Aventine Hill. Ia berlari limbung, lentera di tangannya bergoyang liar menciptakan bayangan monster di pepohonan. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa sakit di pangkal tenggorokan. George hilang. Putranya lenyap dari kamar.
Mata Meghan terbelalak. Suara gemerincing logam dari ikat pinggang Maxi yang mulai terbuka terdengar seperti lonceng kematian baginya. Tidak. Ini tidak boleh terjadi! Dengan sisa tenaga yang masih tersisa, Meghan menghimpun seluruh amarahnya. Ia mendorong dada polos Maxi sekuat tenaga. Sentakan
Brak!Meja kayu jati itu berdentum keras di bawah hantaman tinju Maxi. Di depannya, James mematung dengan napas tertahan. Kabar yang dibawa pria itu hanya racun bagi pendengaran Maxi."Gagal?" desis Maxi. Suaranya rendah, namun mengandung ancaman yang lebih mengerikan daripada teriakan. "Kau bilang







