Beranda / Mafia / DI ATAS RANJANG MAFIA / 77. Misteri Kematian Carlo

Share

77. Misteri Kematian Carlo

Penulis: Dewa Amour
last update Tanggal publikasi: 2026-01-19 15:37:57

Musim dingin di Roma selalu terasa seperti kutukan bagi mereka yang membawa luka lama. Langit sore itu tampak mendung, seolah-olah awan sedang menahan beban kesedihan yang sama beratnya dengan apa yang dirasakan Michele.

Titik-titik salju mulai berjatuhan, melayang lambat sebelum mendarat dan mencair di atas batu nisan marmer yang dingin. Angin pegunungan yang tajam meniup helaian rambut dan bulu halus di dagu lancip Michele, namun pria itu bergeming.

Sepasang mata tajamnya, yang biasanya ding
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    216. Penemuan Mayat

    Cahaya matahari pagi yang baru terbit di langit Roma menembus celah-celah jendela besar ruang kerja pribadi George Riciteli, memantulkan bayangan siluet yang tegang di atas lantai marmer. Di tengah ruangan, Luca dan Mark berdiri tegak dengan kepala sedikit menunduk. Mereka berdua saling pandang sekilas melalui sudut mata, merasakan aura membunuh yang begitu pekat memancar dari sosok sang penguasa tertinggi klan yang duduk di balik meja kayu mahoninya. ​BRAAAK! ​George menghantamkan selembar surat kabar harian lokal ke atas meja dengan kekuatan penuh. Lembaran kertas itu mendarat tepat di hadapan Luca dan Mark. Di sampul depan media cetak tersebut, terpampang jelas foto wajah Bella Riciteli yang diambil secara sembunyi-sembunyi, lengkap dengan tajuk utama berukuran besar yang sangat provokatif: "ISTRI GEORGE RICITELI: SEORANG PSIKOPAT BERDARAH DINGIN DI BALIK GEMERLAP ROMA." ​"Siapa yang memberikan izin kepada bajingan-bajingan ini untuk mencetak sampah seperti ini?!" su

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    215. Kegilaan Bella

    Di pusat kota Roma yang gemerlap, sebuah bar eksklusif bernama L'Olimpo menyajikan kemewahan yang sarat akan aroma uang dan kekuasaan hitam. Musik jazz bertempo rendah mengalun lembut, berbaur dengan kepulan asap cerutu mahal dan dentingan gelas kristal. ​Di dalam sebuah bilik VIP yang semi-terbuka, George Riciteli duduk dengan keanggunan seorang penguasa tertinggi. Di sampingnya, Bella Riciteli duduk dengan anggun, mengenakan gaun malam berbahan sutra merah marun berpotongan rendah yang memperlihatkan lekuk tubuh indahnya secara sempurna. George saat ini sedang terlibat perbincangan bisnis yang sangat serius dengan Marco, sekutu lama sekaligus kepala jaringan penyelundupan senjata dan kartel obat-obatan terlarang milik klan Riciteli di wilayah Sisilia. ​"Situasi di pelabuhan Palermo kian memanas, George," kata Marco, menyesap wiskinya dengan dahi berkerut. "Bisnis kita maju terlalu pesat hingga pasokan logistik saat ini kewalahan. Kita membutuhkan tambahan armada kapal kargo sert

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    214. Konspirasi Kepolisian

    Pendar lampu neon di ruang rapat utama Kantor Polisi Pusat Roma memancarkan cahaya putih yang dingin, senada dengan atmosfer tegang yang menyelimuti para petinggi divisi kriminal pagi itu. Di ujung meja oval mahoni, Komisaris Ricardo berdiri tegak dengan seragam dinas lengkap berdada bidang. Tangannya mengetuk berkas tebal kasus pembunuhan Natasha Young sebelum melemparkannya ke tengah meja dengan acuh. ​"Kasus pembunuhan pramugari SriLankan Airlines resmi ditutup hari ini," ujar Komisaris Ricardo, suaranya bariton dan mutlak. "Kurangnya bukti fisik di lapangan, tidak adanya rekaman kamera pengawas, serta hilangnya saksi-saksi kunci membuat kasus ini tidak lagi efisien untuk dilanjutkan. Divisi kita harus fokus pada prioritas lain." ​BRAK. ​Jacobs Simoncelli memukul permukaan meja, bangkit dari kursinya dengan sepasang mata yang menyala tajam penuh penentangan. "Ditutup?! Komisaris, kita sedang berbicara tentang pembunuhan sadis seorang wanita muda yang kehilangan kedua bola ma

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    213. Eksekusi Di Toilet Bandara

    "Halo..." Bella tersenyum mengerikan. Ujung pisau di tangannya berkilat dipenuhi aura iblis. Sebelum Natasha sempat membuka mulutnya untuk menjerit, Bella melesat maju dengan kecepatan abnormal. Tangan kirinya membekap mulut Natasha dari belakang, sementara tangan kanannya mengayunkan pisau, menusuk leher pramugari itu dengan brutal. ​JLEB! ​Darah segar seketika menyembur, mengotori permukaan cermin putih bersih di hadapan mereka. Tubuh Natasha lunglai, jatuh berdebam ke atas lantai marmer yang dingin. Namun, kegilaan psikopat Bella belum terpuaskan. Dengan mata yang berkilat penuh kepuasan sadis, Bella berlutut di atas tubuh Natasha yang megap-megap, menghujamkan pisaunya ke leher dan dada wanita malang itu berulang-ulang tanpa ampun hingga Natasha benar-benar berhenti bergerak dan tewas dalam genangan darahnya sendiri. ​Bella mengembuskan napas puas, senyum kegembiraan yang mengerikan terukir di wajah cantiknya. Ia mengambil selembar tisu, mengusap setitik noda darah yang ter

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    212. Jiwa Psycho Bella

    Tiga bulan telah berlalu sejak insiden berdarah di Melbourne yang hampir merenggut nyawa Miranda Ford dan melukai kaki Levin Miller. Namun, bagi George Riciteli, waktu seolah berjalan di tempat, tertahan oleh rantai kegilaan yang kian hari kian mencekik kewarasannya. ​Di dalam kabin eksklusif kelas bisnis maskapai penerbangan internasional menuju Roma, menjelang fajar menyingsing, keheningan terasa begitu berat. George duduk bersisian dengan istrinya, Bella Riciteli. Sinar remang-remang dari lampu kabin menerpa separuh wajah tampan George yang tampak lelah. Sementara matanya melirik ke arah Bella yang duduk di sampingnya, tampak sangat tenang, sibuk menggeser layar ponsel pintarnya seolah dunia di sekitarnya tidak pernah terjadi apa-apa. ​Satu bulan terakhir ini, George sengaja mengosongkan jadwal klan dan memboyong Bella ke sebuah resor privat terpencil di Maladewa. Niat awalnya adalah untuk memulihkan kesehatan mental Bella pasca-amukan di Kanada, sekaligus memperbaiki h

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    211. Bab Terakhir Miranda

    Lorong itu terasa makin dingin dan mencekam. George menghisap rokoknya untuk terakhir kali, lalu membuang puntungnya ke lantai, menginjaknya dengan ujung sepatu kulitnya hingga hancur. "Kau tidak perlu meninggalkan kota ini atau melarikan diri lagi ke ujung dunia. Tetaplah di Melbourne, karena aku telah memastikan jaringan keselamatanku mengunci tempat ini. Besok, aku akan kembali ke Roma. Dan selama aku berada di sisi Bella, aku pastikan dia tidak akan pernah mencari atau mengendus keberadaan mu lagi. Ini adalah terakhir kalinya... kita berdiri berhadapan seperti ini." Miranda mematung di tempatnya berdiri, seolah seluruh pasokan udaranya telah direnggut paksa. Terakhir kalinya. Ucapan George barusan bukan sekadar kalimat penenang; itu adalah sebuah kata perpisahan yang teramat sadis, sebuah eksekusi dingin yang menamparnya kembali pada kenyataan yang brutal. Di mata sang Raja Mafia, dirinya tidak lebih dari sekadar pelarian fisik sesaat, sebuah tempat singgah sementara di kala

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status