Home / Mafia / DI ATAS RANJANG MAFIA / 79. Bahaya Di Hutan

Share

79. Bahaya Di Hutan

Author: Dewa Amour
last update Last Updated: 2026-01-20 15:24:45

Petang itu, Aventine Hill berubah menjadi neraka putih. Langit yang semula jingga mendadak tertutup awan kelabu tebal, menumpahkan salju yang turun dengan ganas. Angin kencang bersiul di sela-sela pohon pinus, membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang.

Di tengah badai itu, Meghan berlari terengah-engah. Napasnya membentuk uap putih yang terputus-putus.

Ia menggendong George, yang beratnya kini terasa berkali-kali lipat karena rasa lelah yang menghimpit. Gaun tipisnya robek di beberapa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    122. Sang Pemburu

    Roma, Italia.Kediaman Don Lazaro Riciteli.Fajar baru saja pecah di cakrawala Roma, namun di dalam kediaman Lazaro Riciteli, atmosfer terasa seberat timah. Kabar mengenai kepulihan George baru saja tiba, namun itu tidak cukup untuk meredakan badai yang sedang bergejolak di benak sang penguasa tua."Tuan Muda sudah mulai stabil. Dokter Arian sedang menjahit lukanya dan memantau kondisinya secara intensif." Ernesto membungkuk dengan hormat, suaranya gemetar oleh kelelahan dan rasa takut yang masih tersisa. Setelah Lazaro mengibaskan tangan dengan gerakan abai, pelayan tua itu segera menghilang di balik pintu mahoni."Sepertinya kita perlu menambah unit pengawal lagi untuk melindungi George. Roma tidak lagi aman untuknya," suara itu berat dan berwibawa, memecah kesunyian ruangan.Carlo Matius Riciteli. Pria itu baru saja menginjakkan kaki di Roma setelah perjalanan panjang. Wajahnya yang tegas menyimpan kesedihan yang mendalam. Seharusnya ia menemui keponakannya, George, namun sang Ra

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    121. Jejak Darah Di Kota Mode

    Angin musim panas di Milan tidak pernah benar-benar terasa hangat bagi seorang Riciteli. Saat jet VIP pribadi itu menyentuh landasan di padang rumput tandus pinggiran kota, deru mesinnya seolah mengoyak keheningan petang yang lembap. Debu dan kerikil beterbangan, menciptakan badai kecil di sekitar burung besi raksasa yang angkuh itu.Pintu jet bergeser ke samping dengan suara hidrolik yang halus. Dua bodyguard berpakaian taktis segera mengambil posisi, membungkuk dalam-dalam saat George Lazaro Riciteli melangkah keluar.George berdiri di ambang pintu pesawat, membiarkan angin kencang menerpa kemeja sutranya yang mahal. Ia menarik napas panjang, meresapi aroma rumput kering dan polusi tipis yang khas dari kota favorit ayahnya. Milan. Di sinilah dinasti Riciteli menanam akar kekuasaannya, dan di sini pula George merasa takdirnya sebagai "Klan Riciteli" yang tunggal terasa begitu nyata sekaligus menyesakkan.Di bawah sana, Luca Amadeus berdiri di barisan depan bersama sepuluh bodyguard

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    120. Elang Betina

    Fajar menyingsing di atas cakrawala Mediterania, namun cahaya emasnya tidak mampu menyinari kegelapan yang baru saja dilarung ke dasar laut.Dua pria berwajah dingin menjatuhkan bungkusan plastik hitam dari dek kapal cepat. Tubuh Adela yang malang tenggelam, ditelan kedalaman air yang dingin untuk selamanya. Di dunia ini, nyawa seorang gadis tak lebih dari sekadar statistik di bawah kaki klan Riciteli.Beberapa mil dari lepas pantai, sebuah truk pengangkut pakan ternak melaju membelah kabut fajar yang menyelimuti tebing-tebing putih Roma. Di kabin belakang yang sempit dan berbau apek, seorang gadis duduk dengan punggung tegak, dekapannya pada laras senapan panjang begitu posesif.Bella Austin Castaro.Di usianya yang ke-25, ia adalah legenda hidup di dalam barak Organisasi EXO. Tatapannya setajam belati, dan jari telunjuknya adalah hakim bagi siapa pun yang masuk dalam bidikannya. "Elang Betina," begitulah rekan-rekannya menjulukinya.Bella mencengkeram badan senapan laras panjangnya

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    119. SEASON 3 - Darah Mafia Riciteli

    Sequel dari novel Di Atas Ranjang Mafia season 2 karya DW AMOUR "Darah Riciteli adalah kutukan, dan George adalah puncaknya."Di bawah jari manisnya, Cincin Kepala Naga bukan lagi sekadar simbol kekuatan, melainkan belenggu. George Lazaro Riciteli kini bertahta di atas tumpukan mayat dan kejayaan Roma, namun jiwanya mati di tengah depresi yang menghancurkan. Baginya, dunia hanyalah tentang darah yang tumpah atau kepuasan sesaat di atas ranjang. Dialah raja yang gila sepanjang sejarah Mafia.Bella Austin Castaro, sang sniper berdarah dingin, tidak pernah meleset. Baginya, George hanyalah target yang harus musnah demi kedamaian dunia. Namun, saat teropong bidiknya bertemu dengan mata hijau George yang kelam, segalanya berubah. George menginginkan Bella-bukan hanya tubuhnya, tapi jiwanya. Di bawah atap kastil yang penuh rahasia, Bella menyusup sebagai kekasih, sementara jarinya tetap berada di pelatuk, menunggu waktu yang tepat untuk mengirim sang Raja Mafia ke neraka.Saat cinta menja

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    118. Keputusan Meghan (Ending)

    Malam di Virginia kian larut, membungkus penthouse mewah itu dalam sunyi yang mencekam namun intim. Di luar jendela, butiran salju masih berjatuhan dari langit yang sepekat tinta, menumpuk di atas dahan-dahan pohon maple yang meranggas. Angin musim dingin sesekali melolong, mengetuk kaca jendela, seolah ingin ikut masuk ke dalam kehangatan yang tersisa.Meghan Crafson berdiri mematung di ambang pintu kamar. Matanya tertuju pada punggung lebar Michele yang berdiri diam di tepi jendela besar. Pria itu menatap hamparan salju dengan tatapan yang sulit diartikan—dingin, namun penuh rahasia."Apa kau akan segera pergi?" bisik Meghan, suaranya nyaris tenggelam oleh desau angin.Michele tidak langsung menjawab. Ia melirik dari sudut matanya, menyunggingkan senyum tipis yang penuh misteri. "Apa jika aku pergi, kau akan baik-baik saja?"Pertanyaan itu menghujam jantung Meghan. Ia tahu jawabannya; tidak. Tanpa pria bajingan ini, dunianya terasa hampa, meski lebih aman. Tanpa sentuhan kasar nam

  • DI ATAS RANJANG MAFIA    117. Ulang Tahun George

    Musim dingin di Virginia tahun ini terasa jauh lebih menggigit daripada yang pernah dirasakan Meghan di Roma. Salju tebal membungkus kota seperti kain kafan putih, membekukan aktivitas, namun tidak mampu membekukan badai yang bergejolak di dalam dadanya.Di atas penthouse mewah yang menghadap ke pusat kota, dekorasi pesta ulang tahun George telah tertata sempurna. Balon-balon berwarna biru dan perak memenuhi sudut ruangan, sementara meja-meja penuh camilan disiapkan dengan apik. Meghan, dalam balutan dress hitam elegan yang kontras dengan pucat wajahnya, berjalan mondar-mandir memastikan segalanya beres. Namun, matanya terus melirik ke arah jendela yang buram karena embun es.Dua pekan. Dua pekan sejak ia melarikan diri dari bayang-bayang Klan Riciteli. Dan selama dua pekan itu pula, ia harus menyaksikan George—putra kecilnya yang baru berusia lima tahun—tumbuh menjadi sosok yang asing. George tidak lagi ceria; ia lebih banyak diam, menatap kosong ke arah luar, seolah sedang menungg

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status