“Apa yang kamu rasakan sekarang, Sayang? Tubuh kamu?” tanya Abra sambil memeluk Serayu dari belakang. Mereka duduk berdampingan di ranjang bersiap untuk tidur.“Nggak muntah lagi,” jawab Serayu. “Tapi kadang masih mual kalau mencium bau yang nyengat.”“Yang nyengat, contohnya?”“Sabun cuci piring,” kata Serayu sambil meringis kecil, menoleh sedikit ke arah Abra. Tangan Abra terulur, mengusap dagu kesayangannya dengan lembut. “Ah, sama nasi matang,” lanjut Serayu menambahkan.Abra terkekeh pelan, lalu kembali memeluknya lebih erat, membenamkan wajah di ceruk leher Serayu. “Ibu katanya mau pulang?”“Iya…” nada Serayu terdengar sendu. “Sedih sedikit. Katanya renovasi rumah sudah selesai, mau bantu Ayah beberes. Rumahnya cantik banget, lho, Mas. Terima kasih ya.”Abra tidak langsung menanggapi. Ia masih betah menghirup wangi tubuh istrinya.“Ayah juga semangat banget mau ngurus kebun belakang yang sudah dirapikan,” lanjut Serayu. “Katanya mau mulai tanam buah dan sayuran.”“Pasti menyena
Last Updated : 2026-02-08 Read more